900 Pemuda Indonesia Tewas akibat Vaksinasi Tahun 1944

  • Whatsapp
Tahun 1944, 900 pemuda Indonesia di kamp romusha Klender tewas setelah disuntik vaksin yang dibuat oleh ilmuwan Jepang di Lembaga Pasteur, Bandung.
Tubuh seorang prajurit yang sedang cekang dan kejang-kejang akibat tetanus. Karya lukis ini dibuat oleh Sir Charles Bell tahun 1809. Saat ini hak cipta gambarnya dipegang Royal College of Surgeons of Edinburgh.

Satu minggu setelah mendapat suntikan vaksin, ratusan pemuda Indonesia di kamp rōmusha Klender, Jakarta, mulai merasakan ada yang tak beres dengan tubuhnya. Diawali munculnya rasa cemas, kemudian kejang-kejang, disusul rasa sakit luar biasa.

Saat ratusan penerima vaksin tersebut mulai sekarat, ada 90 orang yang masih dalam keadaan baik-baik saja meskipun telah divaksin. Mereka kemudian dievakuasi ke fasilitas medis Djakarta Ika Dai Gaku (sekarang RSCM).

Bacaan Lainnya

Baru sebentar dirawat, ke-90 orang itu pun mulai merasakan gejala yang sama: kejang-kejang. Mereka juga tersenyum atau seperti tertawa, padahal tidak ada apa pun yang lucu, menyenangkan, atau hal-hal lainnya yang membuat seseorang seharusnya tersenyum/tertawa.

72 jam setelah gejawal awal tersebut muncul, semuanya tewas dalam posisi tubuh yang ganjil: badan cekang dalam posisi bengkok/meliuk, mata melotot, mulut “tertawa”, dan semua jari kaki-tangan mencengkeram erat. Peristiwa ini terjadi antara akhir Juli dan awal Agustus tahun 1944.

Bahder Djohan, dokter yang memimpin upaya penyelamatan, menyebutkan jumlah anak muda Indonesia yang tewas akibat vaksinasi cacat tersebut mencapai 900 orang. Angka ini ia dasarkan pada jumlah orang yang diketahui telah disuntik, juga perkiraan atas jumlah orang sakit yang terlihat olehnya.

Sabotase dan hipotesis kecelakaan

Memang yang melakukan sebagian besar penyuntikan adalah dokter-dokter Indonesia, yakni Dr. Marah Achmad Arief dan Dr. Soeleiman Siregar. Lulusan-lulusan STOVIA ini bekerja di Dinas Kesehatan Kota Jakarta. Akan tetapi, keduanya berpikir yang diberikan hari itu adalah vaksinasi tipus, kolera, disentri (TCD) rutin seperti pada hari yang sudah-sudah. Mereka tak tahu botol-botol (ampul) cairan yang bertuliskan “vaksin” (obat) tersebut isinya ternyata adalah toksin (bakteri/racun/virus). Lebih spesifiknya, isi botol vaksin itu adalah toksin bakteri Clostridium tetani yang dimurnikan. Ini adalah bahan mematikan, karena ia murni virus atau bakteri penyebab tetanus.

Vaksin cacat tersebut diambil militer Jepang dari Lembaga Pasteur yang berlokasi di Bandung. Setibanya di Jakarta, vaksin disimpan di ruang pendingin/pembeku milik Lembaga Eijkman yang waktu itu dipimpin oleh Dr. Achmad Mochtar (ilmuwan kedokteran asal Minangkabau).

Mochtar kemudian ditangkap pada 7 Oktober 1944 bersama para peneliti Lembaga Eijkman lainnya. Termasuk peneliti perempuan bernama Nani Kusumasudjana. Nani adalah teknisi bakteriologi di Lembaga Eijkman. Dia jugalah orang yang memegang satu-satunya kunci masuk ke ruangan pendingin/pembeku tersebut.

Sementara Arief dan Siregar juga ditangkap. Atasa mereka, Dr. Marzoeki, alat kelaminnya disetrum selama interogasi oleh Kempeitai (polisi militer Jepang). Semua orang itu disiksa berulang-ulang. Mayat Arief yang sudah dimutilasi kemudian dipamerkan di depan tahanan lain. Sementara Mochtar pada 3 Juli 1945 dieksekusi mati dengan cara khas Jepang. Lehernya putus ditebas pedang.

Untuk menutupi kejahatannya di Klender, Jepang memang harus mencari kambing hitam dari kalangan orang Indonesia. Kalau tidak demikian, maka perwira kesehatan dan pemimpin militer Jepanglah yang akan diadili atas kejahatan perang. Lantas Jepang mulai mengarang cerita bahwa Mochtar telah melakukan sabotase atas vaksin tersebut.

Tuduhannya dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Jepang mengambil botol berisi cairan vaksin di Lembaga Pasteur di Bandung
  • Vaksin dibawa ke Jakarta untuk disuntikkan kepada ratusan rōmusha di kamp Klender
  • Sebelum dipakai, ampul-ampul (botol) berisi cairan vaksin disimpan di lemari pendingin/pembeku milik Lembaga Eijkman di Jakarta
  • Mochtar, sebagai pemimpin Lembaga Eijkman, telah meracuni cairan vaksin TCD dengan bakteri tetanus
  • Tujuan Mochtar menyabotase vaksin agar para rōmusha tewas sehingga Jepang menjadi malu; Mochtar ingin menjelek-jelekkan Jepang

John Kevin Baird dan Sangkot Marzuki kemudian hadir untuk membantah tuduhan tersebut dengan mengajukan penjelasan tentang “aspek teknis vaksinasi”.

Dalam Eksperimen Keji Kedokteran Penjajahan Jepang: Tragedi Lembaga Eijkman & Vaksin Maut Rōmusha 1944-1945, Baird dan Marzuki menjelaskan selama ini memang sudah ada beberapa sejarawan yang membeberkan kasus kematian rōmusha di Klender. Akan tetapi “penjabaran kisah sejarah ini oleh penulis non-ilmuwan sebelumnya melewatkan aspek teknis yang krusial”.

Menurut penjelasan keduanya sebagai ilmuwan kedokteran, mustahil Mochtar menuangkan bakteri tetanus ke dalam botol vaksin yang sudah tersegel dari Lembaga Pasteur. Karena apabila itu dilakukan, oksigen akan membunuh bakteri tetanus. Dalam dunia kedokteran, bakteri atau organisme yang hanya dapat hidup tanpa oksigen disebut “anaerob”. Dan Clostridium tetani adalah “bakteri anaerob mutlak”.

“Bakteri penyebab tetanus adalah Clostridium tetani. Mikrob ini tidak memiliki toleransi terhadap oksigen. Ketika terpapar oksigen, C. tetani  akan mati tetapi meninggalkan salinan dirinya pada penutup kedap udara, menjadi spora tidak aktif. Spora itu dapat aktif kembali hanya di lingkungan yang benar-benar kekurangan oksigen,” tulis Baird dan Marzuki (Hlm. 155-156).

“Oksigen adalah racun bagi bakteri, seperti halnya sianida bagi manusia” (Hlm. 207).

Kedua penulis juga memakai perumpamaan susu. Apabila bakteri tetanus dituangkan ke dalam gelas susu, peminum susu tak akan sakit. Paparan oksigen yang ada di atmosfer akan mematikan C. tetani, termasuk dibunuh oleh oksigen yang ada di dalam susu itu sendiri. Apalagi ternyata “saluran usus tidak menyediakan lingkungan bebas oksigen”. Oleh karenanya susu yang tercampur bakteri (basilus) tadi “akan lewat tanpa membahayakan tubuh”.

Dijelaskan lebih lanjut: “Di bawah mikroskop, basilus C. tetani menyerupai raket tenis kecil. Kepalanya adalah tempat penyimpanan spora secara internal. Ketika terpapar oksigen, basilus akan mati, tetapi spora tetap ada. Spora hanya bertunas ketika berada di lingkungan yang benar-benar tidak memiliki oksigen” (Hlm. 208).

Kenyataannya berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap jenazah 90 orang yang tewas di rumah sakit, memang ada banyak sekali toksin tetanus dalam jaringan tubuh mereka. Akan tetapi spora yang telah bertunas tidak ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri tetanus dimasukkan ke dalam cairan vaksin melalui saluran tertutup (tidak terpapar oksigen).

Seandainya Mochtar membuka segel botol vaksin untuk menuangkan bakteri tetanus, maka bakteri tersebut akan terpapar oksigen dan mati lalu membuat spora bertunas. Dengan demikian, bakteri tetanus sudah ada dalam cairan vaksin sejak awal, sejak berada di tempat pembuatannya, yakni Lembaga Pasteur—yang kala itu dipimpin oleh seorang ilmuwan Jepang.

Tidak berhenti di situ, Baird dan Marzuki juga menolak hipotesis bahwa tercemarnya vaksin bikinan Angkatan Darat Jepang di Lembaga Pasteur itu adalah akibat dari kecelakaan produksi. Vaksin tersebut diyakini adalah suatu eksperimen medis Jepang (“eksperimen kedokteran kriminal”).

Riwayat kekejaman Unit 731

Keyakinan ini diperkuat oleh fakta bahwa Lembaga Pasteur (didirikan Belanda tahun 1895) yang diambil alih Jepang tahun 1942 telah “gagal memproses anatoksin (vaksin toksoid)”. Ketika lembaga ini masih dipegang Belanda, vaksin toksoid tetanus pun masih dalam tahap pengembangan. Namun sebelum usaha itu berhasil, Jepang datang lalu menyingkirkan para ilmuwan Belanda, menempatkan orang-orang Jepang di dalamnya (termasuk direktur utama yang baru), dan mengganti nama lembaga menjadi Bandung Rikugun Bo’eki Kenkyūjo.

Jepang waktu itu sebenarnya sudah mampu memproduksi vaksin toksoid tetanus untuk kepentingan perang tahun 1944. Tetapi vaksin-vaksin tersebut tak dapat dikirim ke seluruh wilayah pendudukan karena pengangkutannya sangat mungkin terkena serangan musuh. Indonesia, dan wilayah selatan pendudukan lainnya, adalah bagian yang tidak kebagian vaksin teruji tersebut. Oleh karenanya komando militer Jepang di Jakarta memerintahkan pembuatan dan pengembangan vaksin baru langsung di tempat (Bandung).

Dengan senegap fasilitas di Bo’eki Kenkyūjo, ilmuwan militer Jepang bekerja secepat mungkin menghasilkan vaksin baru. Jepang amat mengkhawatirkan para prajuritnya terkena tetanus dalam peperangan yang berlarut-larut di hutan dan persawahan Indonesia. Akan tetapi karena tak lagi punya waktu banyak, vaksin yang baru dikembangkan dan belum terbukti aman segera diproduksi massal dan diuji coba kepada manusia.

Cara terbaik untuk mengujinya tentu bukan pada tubuh para prajurit Jepang sendiri, melainkan terhadap pemuda-pemuda Indonesia dalam barisan rōmusha. Maka pada awal Agustus 1944, penyuntikan vaksin cacat tersebut mulai dilakukan. “Tidak ada catatan bahwa rōmusha yang telah disuntik ada yang selamat,” kata Baird dan Marzuki.

Menurut sejarawan Aiko Kurasawa, Direktur Pertama Bo’eki Kenkyūjo waktu itu adalah Dr. Kikuo Kurauchi. Ia didatangkan dari Unit 731, suatu departemen riset biologi militer Jepang yang memiliki riwayat kejam dalam penggunaan senjata biologis. Departemen ini, misalnya, pernah secara kejam meracuni roti yang dibagikan kepada anak-anak Tiongkok yang sedang kelaparan akibat perang.

“Roti tersebut mengandung kuman kolera atau tipus untuk uji virulensi galur bakteri tersebut. Pesawat-pesawat Unit 731 menjatuhkan kaleng-kaleng berisi kutu pembawa wabah ke kota-kota di Tiongkok yang tidak diperebutkan—dan sampai hari ini wabah endemik masih terjadi di daerah-daerah yang dulunya bebas wabah,” ungkap Baird dan Marzuki, mengutip hasil penelitian Hal Gold dalam Unit 731 Testimony (2004).

Riwayat tersebut memang diakui keduanya bukan bukti langsung. Namun bagaimana riwayat kekejaman Unit 731 dan keterlibatan veteran departemen ini dalam pembuatan vaksin di Bandung, patut diduga kematian 900 rōmusha di Klender memang akibat eksperimen medis.

Kejadian di Klender adalah salah satu tragedi memilukan dalam 40 bulan pendudukan Jepang atas Indonesia. Disebut tragedi bukan hanya karena jumlah korbannya amat besar, tetapi juga karena tak ada satu pun pemimpin militer Jepang yang dihukum sebagai pelaku kejahatan perang.

Pos terkait