Aceh seperti Kuburan, Tapanuli Penuh Hiburan

Muhammad Radjab di Aceh

Aceh memang daerah yang indah alamnya dan bersih kotanya. Tetapi gangguan keamanan masih ada di mana-mana. Waktu itu, setelah Indonesia merdeka, masih ada perkelahian internal antarorang Aceh, yakni antara rakyat-ulama dengan kelompok hulubalang.

Situasi ini membuat rombongan Kementerian Penerangan Pemerintah yang tiba di Aceh pada Juni 1947 tidak dapat mengunjungi sejumlah tempat yang direncanakan, antara lain Takengon dan Meulaboh. Tentu ini sangat disayangkan. Seorang wartawan dalam rombongan tersebut, Muhamad Radjab, menulis kekecewaannya.

“Cumbok, tempat terjadinya pertempuran antara rakyat Republik dan barisan feodal, juga tidak sempat dikunjungi … Jika pertempuran pecah lagi, tipis harapan akan ada kesempatan pulang ke Jawa. Akan tinggal di Sumatra, semua teman tidak suka; dan saya sendiri pun menaruh keberatan” (Catatan di Sumatra, 2020).

Singkat cerita, mereka lekas meninggalkan Aceh. Tujuan berikutnya adalah Tapanuli. Sesampainya di sana Radjab merasakan suasana yang amat jauh berbeda.

Di sepanjang jalan Tapanuli mudah ditemukan perempuan-perempuan muda yang berpenampilan menarik.

“Mereka tersenyum, tertawa, dan heran melihat kami yang asing bagi mereka, yang berbeda dengan yang dilihatnya setiap hari di Sumatra. Perjalanan kami mulai menggembirakan. Makin dekat ke Balige semakin banyak gadis dan perempuan muda Batak kami jumpai di jalan atau sedang di pekarangan rumahnya. Gadis Kristen lebih merdeka dan segar daripada gadis Islam di Sumatra,” tulis Radjab.

Hal ini bertolak belakang dengan keadaan di Aceh, yang mana perempuan-perempuan manis cuma bisa ditemukan dalam rapat-rapat dengan pemerintah. Radjab menulis:

“Di kiri-kanan jalan antara Kuala Simpang dan Sigli, tidak pernah kami menjumpai wanita dan gadis-gadis manis, yang akan menggembirakan kelana dari jauh … Yang kita jumpai hanyalah perempuan-perempuan tua pulang dari ladang atau sawah, yang pakaiannya bergelimang debu atau lumpur. Kembang-kembang jelita yang menghiasi pinggir jalan tidak ada di seluruh Aceh. ‘Di manakah engkau, mawar jelita?’ tanya rekan R” (Hlm. 50).

“R” yang dimaksud adalah Rinto Alwi, wartawan Merdeka.

Soal musik

Sudah sulit menemui gadis cantik, sukar pula bisa menikmati hiburan selama di Aceh. Terutama pada malam hari, tidak ada yang duduk-duduk sambil bernyanyi untuk mengungkapkan “kegembiraan dan kecintaan hidup kepada dunia ini”. Betul-betul membosankan bagi Radjab muda yang haus hiburan. Suasana malam yang riang berkat musik baru terasa di Tapanuli.

Oleh Radjab, perbedaan ini diletakkan dalam dikotomi kemajuan-ketertinggalan. Aceh dianggap tertinggal, sedangkan Tapanuli yang ceria mewakili kemajuan. Dan yang bersalah atas ketertinggalan ini, menurut Radjab, adalah para ulama Aceh. Ulama-ulama ia nilai telah “keliru menafsirkan tujuan agamanya”.

Berikut komentar-komentar Radjab mengenai hal tersebut (semuanya di halaman 90):

  • “Setiap kali saya berjalan-jalan malam di Aceh, di mana-mana sepi seperti di pekuburan, tidak ada bunyi-bunyian, tidak terdengar suara orang berdendang. Saya heran, bagaimanakah orang Aceh menyuarakan perasaannya? Hanya di surau orang ramai mengaji”
  • “…betapa rusaknya musikalitas rakyat Aceh, karena dilarang keras memainkan musik, yang dikatakan haram oleh guru-guru agama yang kolot, fanatik, yang hanya pandai membaca kitab-kitab yang dicetak lima abad yang lalu, dan buta melihat kemajuan dunia modern”
  • “Tidak heran jika orang yang tidak gemar musik itu tidak gembira hidup, jadi fatalis, dan ingin lekas mati. Dunia ini, dan Indonesia yang cemerlang ini, terlalu suram bagi mereka”

Seorang ulama mengatakan kepada Radjab bahwa orang Aceh tidak mementingkan kenikmatan dunia. Yang penting adalah masuk surga sehingga nanti bisa mendengarkan musik “yang jauh lebih bagus dan merdu daripada musik di dunia”.

“Saya percaya, di akhirat belum tentu kesenangan menunggunya, sebab apalah perbuatan, jasa, dan prestasinya yang terpenting sampai Tuhan memberinya istana yang permai di surga?” Radjab berseloroh.

Tentu saja pria Minangkabau ini tak mengutarakan langsung komentar/bantahan tersebut, oleh sebab ia mengetahui satu hal: “Yang bahaya, orang Aceh mau membela pendapatnya dengan rencong. Jika paham kita berlainan dengan mereka, sungguh sulit”.

Penulis: Bisma Yadhi Putra