Achmad Marzuki Masuk Daftar Hitam dan Jadi Target Pembunuhan

Sejarah Achmad Marzuki, Riwayat hidup Achmad Marzuki, masa lalu Achmad Marzuki, latar belakang Achmad Marzuki
"Muzakir dan Achmad"

Begitu tersiar kabar tentara Jepang telah mendarat di pesisir Aceh, orang-orang Belanda di Kutaraja bergegas meninggalkan kota untuk menyelamatkan diri serta keluarganya. Para pemuda yang bertugas sebagai penjaga keamanan rakyat berkumpul untuk membahas telah berakhirnya perlawanan terhadap Belanda dan apa yang harus mereka lakukan kemudian.

Pertemuan diadakan di rumah Haji Amin di Mukim Lubok, Aceh Besar. Pemuda Aceh yang hadir antara lain Achmad Marzuki, Teuku Mohammad Ali Panglima Polim, dan Muzakir Walad. Mereka sepakat mengupayakan terjalinnya kerja sama yang baik dengan pihak Jepang. Jepang dipercayai datang bukan sebagai penjajah baru melainkan penyelamat orang Aceh dan agama Islam.

Hidup enak yang dibayangkan para pemuda pendukung Jepang tersebut rupanya tak terwujud. Pemerintah Militer Jepang memimpin dengan kasar. Orang-orang Aceh yang diberi jabatan untuk mengurusi pengumpulan beras dari penduduk senantiasa ditekan. Bagaimana pun caranya, beras untuk kebutuhan orang Jepang harus terkumpul. Tuntutan ini membuat mereka serba salah: kalau mengasihani rakyat, dihukum tentara Jepang; kalau menuruti tentara Jepang, saudara sendiri teraniaya.

Banyak orang yang tak senang dengan Jepang kemudian ditangkap dan dibunuh tanpa proses hukum. Tiga di antaranya adalah Teuku Radja Djumat, Teuku Hasan Dick, dan Teuku Sulaiman Montasiek. Nasib ketiga orang ini ditulis Teuku Muhammad Ali Panglima Polim dalam catatan perjuangannya yang kelak diterbitkan tahun 1996 dengan judul Sumbangsih Rakyat Aceh bagi Republik.

Seperti diceritakan Panglima Polim, para pemuda yang belum tertangkap, tetapi yakin betul sedang diburu, setiap hari hidup dalam rasa cemas. Mereka tahu ada empat kemungkinan yang bakal terjadi kalau kena tangkap: dibunuh langsung tanpa pengadilan, divonis penjara belasan tahun, dihukum seumur hidup, atau dibebaskan tetapi terlebih dahulu disiksa secara kejam.

Rumornya, tentara Jepang punya “daftar hitam” yang berisi nama-nama yang akan ditangkap. Namun, untungnya penangkapan berdasarkan daftar itu tak pernah berhasil dituntaskan tentara Jepang selama tiga tahun (1942-1945) mereka menduduki Aceh. Banyak pula pemuda yang selamat.

“Ada beberapa orang yang luput semata-mata karena lindungan Tuhan, yaitu Saudara Muzakir Walad yang sekarang Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh, Saudara Achmad Marzuki, dan beberapa orang lain,” tulis Panglima Polim.

Setelah Jepang tak lagi berkuasa, Achmad Markuzi diketahui menjabat sebagai Komandan Corps Polisi Militer di Aceh Barat. Kawan-kawan biasa memanggilnya Cut Amat. Sementara Muzakir Walad kelak menjadi Gubernur Daerah Istimewa Aceh selama 10 tahun atau 2 periode (1968-1973 dan 1973-1978).