Beda Lembu Aceh dengan Lembu Jawa

  • Whatsapp
Ketika melakukan ekspedisi di Aceh tahun 1947, jurnalis Muhamad Radjab melihat ada perbedaan gelagat antara lembu di Aceh dengan lembu yang ada di Jawa
"Tidur bersama Senjata"

Mobil yang membawa Parada Harahap ke arah barat Aceh berguncang tiada henti. Koper-koper di bagasi terus berantukan, mengeluarkan suara yang membuat perjalanan lebih dari 400 kilometer tersebut semakin tak nyaman.

Harahap dan tiga temannya menderita pegal-pegal bukan main. Akan tetapi karena mereka baru pertama kali datang ke Aceh, pemandangan yang ada di sepanjang jalan dapatlah menjadi pelipur.

Bacaan Lainnya

Suasana jalanan di Aceh waktu itu, tahun 1947, amat sepi. Mobil dari arah yang sama maupun berlawanan cuma terlihat sesekali. Kelengangan makin menjadi-jadi manakala rombongan Kementerian Penerangan Pemerintah itu meneruskan ekspedisi dari Kutaraja ke Meulaboh, Aceh Barat.

Yang bikin jalanan di Aceh ramai justru hewan-hewan ternak: kambing, kuda, bebek, ayam, lembu.

Seorang anggota tim ekspedisi, Muhamad Radjab, merasa ada yang ganjil dengan kelakuan binatang-binatang ternak di Aceh. Terutama lembu. Dalam buku Catatan di Sumatra, pria asli Minangkabau ini menyebutkan bahwa lembu-lembu milik orang Aceh sungguh berbeda kelakuannya dengan lembu-lembu di Jawa.

Radjab menilai lembu-lembu Aceh kurang “wawasan”. Ketika ada mobil mendekat, mereka tetap rebahan santai di tengah jalan; tak bakal lari menghindari bahaya. Walaupun jarak mobil sudah setengah meter darinya, lembu Aceh cuma diam dengan tatapan polos. Diklakson berulang-ulang juga tidak mempan. Akibatnya mobil tim ekspedisi berkali-kali terpaksa berhenti agak lama.

Lembu Aceh baru mau menyingkir setelah ditakut-takuti dengan teriakan hus dan suara pukulan dinding mobil. Menurut Radjab, lembu Aceh tak punya insting bahaya karena jarang melihat kendaraan bermotor.

Sebaliknya, lembu Jawa sudah terbiasa melihat banyak mobil melaju di depannya. Karena itulah mereka paham betul bahaya tertabrak. Waktu mendengar suara klakson, lembu Jawa lekas lari menyelamatkan diri ke pinggir jalan.

“Binatang ternak di Jawa dan daerah yang agak ramai di Sumatra, tahu dengan instingnya bahwa jalan itu berbahaya. Bilamana ada kendaraan lewat, ternak itu lekas lari ke pinggir. Di Aceh tidak begitu,” tulis Radjab.

Bukan cuma lembu, ternak berukuran kecil juga sama pandirnya. Dalam perjalanan pulang dari Sigli ke Bireuen, mobil tim ekspedisi sempat menggilas ayam dan kambing. Hewan-hewan ini sebenarnya sudah berada di tempat yang aman, di pinggir jalan. Tetapi karena terkejut melihat mobil mendekat, mereka malah berlari pontang-panting ke seberang jalan sehingga terlindas ban mobil.

Nasihat Radjab

Kebanyakan rakyat Indonesia, menurut Radjab, sama kelakuannya seperti kambing dan ayam tersebut. Orang-orang cenderung tak menghadapi ancaman yang datang dengan pikiran jernih. Alih-alih menjauh, malah ada yang berlari ke arah bahaya, jatuh terkilir, patah kaki, atau mati terinjak kerumunan yang panik.

“Pada saat itu, tidak ada bedanya jiwa manusia dengan kambing atau ayam yang saya ceritakan di atas, cuma manusia berbaju, ayam dan kambing tidak. Otaknya sama sekali tidak bekerja pada detik mereka takut, dan lari itu,” kata Radjab.

Biar rakyat Indonesia tidak seperti kambing panik, Radjab pun memberikan sebuah nasihat:

“Orang yang beriman, tenang, berpendidikan tinggi, tidak akan lari sebelum diketahuinya dari mana bahaya itu, betapa rupanya, dan bagaimana menjauhkan diri dari bahaya yang harus dielakkan. Pikirannya tetap jernih, hatinya tabah dan dihadapinya semua itu dengan kepala dingin dan segala ketenangan”.

Pos terkait