Bung Hatta Ditipu Daud Beureueh

Pada Agustus 1953 Wakil Presiden Mohammad Hatta atau Bung Hatta berkunjung ke Aceh dan bertemu Daud Beureueh. Bung Hatta ditipu Daud Beureueh.
"Bung Hatta"

Setelah peleburan daerah Aceh ke dalam Provinsi Sumatra Utara pada tahun 1950, banyak orang Aceh mengutarakan rasa sakit hatinya terhadap “Pemerintah Pancasila” di Jakarta. Diimami Daud Beureueh, mereka menuntut pemerintah pusat agar Aceh selekasnya diotonomikan kembali.

Sementara di pihak seberang, orang-orang Aceh yang anti-Daud Beureueh menolak pengotonomian ulang; mereka merasa hidupnya lebih aman jika Aceh terus berada di bawah kontrol Sumatra Utara.

Menjelang bulan September 1953, para lawan politik Daud Beureueh itu mencium gejala-gejala yang tidak beres. Mereka memperoleh kabar bahwa telah berlangsung sejumlah pertemuan rahasia yang merencanakan pemberontakan baru di Aceh. Saat malam hari, kadang terlihat orang-orang berpakaian serba hitam berdiri di tempat-tempat gelap dengan memegang senjata tajam dan senapan.

Di koran juga mulai muncul banyak hasutan yang mengajak publik untuk membenci “Pemerintah Pancasila” karena telah mengabaikan agama Islam. Daud Beureueh sendiri lewat koran Tegas edisi 16 Juli secara terang-terangan berkata: “Negara harus disesuaikan dengan agama, bukan agama harus menyesuaikan dengan negara”. Selain mengkritik pemerintah, agitasi-agitasi itu juga dibuat untuk meneror para penentang Daud Beureueh.

Gejala-gejala itu segera mengusik ketenangan orang-orang yang anti-Daud Beureueh, khususnya para hulubalang lokal. Mereka jadi cemas dengan keselamatan diri maupun keluarga. Guna mendapatkan perlindungan dari pemerintah, beberapa di antara mereka, seperti Tuanku Husen dan Pocut Hamidah, melaporkan gerak-gerik Daud Beureueh dan kawan-kawannya kepada Presiden Sukarno.

Kedatangan Bung Hatta

Pemerintah cepat-cepat mengambil tindakan setelah menerima laporan dari Aceh. Wakil Presiden Mohammad Hatta pada 28 Juli pergi ke Aceh untuk mengonfirmasi kebenaran isu yang sedang beredar.

Di Kutaraja, berlangsung pembicaraan empat mata selama dua jam. Bung Hatta minta Daud Beureueh menjelaskan secara jujur ihwal isu yang menyatakan dirinya sedang mengasuh suatu pemberontakan baru di Aceh. Ibarat serigala, Daud Beureueh tidak mungkin memberitahu mangsa yang akan dia terkam secara diam-diam dari belakang. Di sinilah Bung Hatta mulai ia tipu. Dikatakannya bahwa tidak benar ia hendak menggelar pemberontakan. Bung Hatta percaya pada jawaban itu. Dan karena merasa tak akan ada masalah di Aceh, ia minta dibawa bertamasya keliling daerah.

Sepulang Bung Hatta pada tanggal 6 Agustus, situasi di Aceh kian genting. Daud Beureueh memerintahkan para bawahannya untuk meneruskan langkah penggemblengan pemberontak, termasuk dengan merekrut para perantau Aceh di Medan.

“Di lapangan, mereka semakin berani mengampanyekan pembentukan Negara Islam sambil mengkritik Pemerintah RI yang menurut mereka telah terpengaruh oleh komunis,” tulis M. Isa Sulaiman dalam Sejarah Aceh: Sebuah Gugatan terhadap Tradisi (1997: 281).

Oleh sebab kemelut di Aceh makin menjadi-jadi, bertambahlah orang yang melayangkan surat pengaduan kepada kepolisian setempat maupun para pejabat negara di Jakarta. Tanggal 17 Agustus, sebanyak 41 penduduk Lueng Putu, Pidie, menyampaikan sebuah laporan tertulis yang mendesak pemerintah segera menangkap Daud Beureueh dan kawan-kawannya. Seperti dikutip Mr. S. M. Amin dalam Di Sekitar Peristiwa Berdarah di Atjeh (1956), surat itu menyebutkan bahwa pihak Daud Beureueh telah:

  • “Memaksa rakjat memasuki Masjumi/Pusa, jaitu djika tidak menurut, diantjam akan dibunuh dan dibakar rumahnja”
  • “Menjuruh bikin sendjata parang2 pandjang, tombak, lembing, dan sebagainja”
  • “Melatih Pandu2 Islam dan orang2 Pusa jang sudah besar, sebagai latihan tentara siang malam”
  • “Kemana-mana mereka sudah bersiap sedia dengan alat dan sendjata terutama dimalam-malam hari terdapat djuga bergerombolan2, dengan memakai pakaian2 warga gelap dan dengan sendjata2 gelap”
  • “Memaksa dan mengantjam penduduk2 jang tidak mau menurut kehendak dan pekerdjaan mereka itu”.

Laporan-laporan yang datang menggambarkan adanya ketakutan luar biasa di kalangan para pembenci Daud Beureueh. Amarah terhadap negara, menurut para pelapor dari Aceh, bisa dengan cepat berkobar lantaran Daud Beureueh “mempergunakan sentimen kedaerahan dan sentimen keislaman” untuk menipu rakyat. Dan karena “kebanjakan rakjat bohoh” maka “penipuan itu rupanja telah berpengaruh dan kenjataannja telah menampak”.

Sebagian pelapor berharap pemerintah segera mengevakuasi orang-orang yang yakin dirinya bakal jadi target kekerasaan. Dja’afar Walad Meulaboh salah satunya. Dia dalam suratnya memohon:

“Tuan saudara, politik di Atjeh tambah hari tambah meruntjing, bajangan hitam telah mulai nampak oleh sebab beberapa anasir jang tidak sehat … Tuan saudara, kalau ada lowongan buat saja bekerdja disini, tolonglah tuan saudara ichtiarkan buat saja, sebab saja nampaknja tak bisa tahan lama lagi di Atjeh”

Bung Hatta segera bertindak begitu mengetahui krisis keamanan di Aceh. Namun kali ini ia tak lagi datang langsung menjumpai Daud Beureueh. Melalui seorang perwira intelijen asal Aceh, Kapten Mufti AS, Bung Hatta menitipkan pertanyaan dan sebuah tawaran untuk Daud Beureueh.

Kapten Mufti AS dan Daud Beureueh bertemu di Usi, Pidie, pada 28 Agustus. Dalam pertemuan ini, Daud Beureueh ditanyai kembali ihwal benar-tidaknya dia hendak memberontak. Dan lagi-lagi dia tidak berkata jujur. Daud Beureueh juga menolak pindah ke Jakarta sebagaimana tawaran Bung Hatta (Sulaiman, 1997: 282-283).

Sikap Daud Beureueh ini bikin muak para petinggi di Jakarta. Kapolri Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo berencana pergi ke Aceh untuk menangkap langsung Daud Beureueh serta lima orang kepercayaannya. Rencana ini batal dilakukan karena adanya intervensi dari Bung Hatta. Bung Hatta masih ingin mengedepankan cara baik-baik untuk masalah di Aceh, yakni dengan menasihati dan membujuk Daud Beureueh.

Akan tetapi, cara yang ditempuh Bung Hatta tidak mendatangkan sedikit pun hasil baik. Tekad untuk memberontak sudah bulat dalam sanubari Daud Beureueh dan para pengikutnya. Mereka cuma perlu menutup-nutupi semua kegiatan mobilisasi prapemberontakan (seperti rekrutmen anggota dan pengumpulan senjata api) agar tidak digembosi para pejabat negara, khususnya oleh kekuatan militer.

Usaha itu berhasil dijalankan hingga akhirnya meletuslah pemberontakan DI/TII Aceh yang dikomandoi Daud Beureueh pada malam hari tanggal 21 September 1953.