Dari Mohammad Roem untuk Fakir Miskin Korban Anjing Gila

  • Whatsapp
teks alt: Pada 1953, Menteri Dalam Negeri Mohammad Roem mengeluarkan surat edaran mengenai pembiayaan perjalanan orang-orang yang digigit anjing gile ke Lembaga Pasteur di Bandung. Kebijakan ini dikeluarkan karena banyak korban gigitan anjing gila merupakan warga miskin yang tak mampu membiayai pengobatan dirinya.
"Menteri Dalam Negeri Mohammad Roem". Sumber gambar: Prisma Resource Center.

Betapa mulianya hati Mohammad Roem. Sewaktu menjadi orang nomor satu di Kementerian Dalam Negeri, dia mendapat kabar bahwa di daerah-daerah telah cukup banyak orang yang menjadi korban serangan anjing gila. Mereka digigit dan kesakitan.

Yang bikin Roem makin terenyuh adalah sebagian besar korban ternyata penduduk miskin. Sudah dibuat berdarah-darah oleh kemiskinan, digigit anjing gila pula. Uang sendiri jelas tak punya untuk mengobati penyakit segawat rabies. Karena itulah orang-orang miskin itu menyampaikan permohonan kepada Kementerian Dalam Negeri agar biaya pengobatan mereka ditanggung negara.

Untungnya permohonan tersebut disampaikan kepada sosok yang senantiasa menaruh peduli pada kesusahan orang lain. Maka setelah menerima permohonan-permohonan itu, Roem lekas berkonsultasi dengan Presiden Sukarno.

Nasib baik datang. Sukarno memberi keleluasan kepadanya untuk mengatur tersedianya anggaran bagi orang-orang miskin yang digigit anjing gila. Secepatnya penganggaran itu harus rampung, biar mereka segera tertolong nyawanya.

Lampu hijau dari Sukarno ini lantas ditindaklanjuti Roem dengan menggelar rapat bersama pihak Jawatan Perjalanan Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial. Roem juga menyurati Kementerian Keuangan pada 25 November 1952 untuk meminta penetapan anggaran sambil menjelaskan duduk perkaranya.

Dalam surat bernomor B.K.2/79/20 yang ditujukan kepada Menteri Keuangan, Roem mengatakan: “…pada Kementerian kami dari beberapa daerah diadjukan permintaan uang persediaan guna membiajai pengiriman orang2 jang digigit andjing gila (beserta pengantarnja) oleh karena mereka tidak atau kurang mampu memikul ongkos pengangkutan maupun dari rumah sakit ditempat itu ke Instituut Pasteur di Bandung untuk berobat”.

Lembaga Pasteur (sekarang Bio Farma) memang tempat terbaik untuk mengobati penyakit anjing gila pada masa itu. Institut yang berdiri pada 1895 di Bandung ini punya riwayat gemilang yang panjang dalam menangani rabies serta berbagai penyakit mematikan lainnya, seperti kolera dan tetanus.

Sebetulnya, Lembaga Pasteur sejak lama telah menggratiskan biaya pengobatan kepada orang-orang yang digigit anjing gila. Kepada para pasien juga diberikan tempat tinggal dan makanan secara cuma-cuma. Dan hal ini diterangkan oleh Roem dalam suratnya kepada Menteri Keuangan.

Masalahnya, berobat bukan cuma soal uang untuk membeli obat. Yang juga mesti dimiliki adalah biaya perjalanan ke tempat berobat. Di Lembaga Pasteur obatnya memang gratis, tetapi bagaimana orang-orang miskin di Aceh atau Papua bisa sampai ke sana untuk memperoleh pengobatan gratis?

Setelah para pejabat berembuk, solusi untuk persoalan tersebut akhirnya keluar pada 8 Juli 1953. Diputuskan: orang-orang miskin di seluruh Indonesia yang menjadi korban gigitan anjing gila akan ditanggung biaya perjalanannya ke Lembaga Pasteur di Bandung. Hal ini diatur dalam Surat Edaran Nomor B.K.2/51/45 perihal “Biaja Pengiriman Orang2 jang Digigit Andjing Gila”.

Kebijakan ini boleh dibilang amat komplet. Ia akan membiayai semua perjalanan pasien yang terdiri dari tiga bagian:

  • Perjalanan dari kediaman ke rumah sakit daerah
  • Perjalanan pergi dari rumah sakit daerah ke Lembaga Pasteur
  • Perjalanan pulang dari Lembaga Pasteur ke kampung halaman

Korban gigitan anjing gila yang pergi ke rumah sakit atau dokter terdekat akan diganti ongkos perjalanannya oleh Kementerian Dalam Negeri. “Ongkos perdjalanan setempat sampai dirumah sakit atau dokter jg memerintahkan pengiriman ke Instituut Pasteur di Bandung diberatkan pada Anggaran Kementerian Dalam Negeri,” tulis Menteri Dalam Negeri dalam suratnya.

Sementara itu, ongkos perjalanan dari daerah ke Lembaga Pasteur ditanggung oleh Jawatan Perjalanan Negeri. Dan tentu saja para pasien tak pergi seorang diri. Mereka akan didampingi oleh satu atau beberapa tenaga medis setempat. Dan setelah pasien diperbolehkan pulang oleh Lembaga Pasteur, ongkos kembali kampung halaman juga akan dibayarkan oleh Jawatan Perjalanan Negeri. Baik perjalanan itu dilakukan dengan kereta api, kapal, ataupun pesawat udara.

Dengan penganggaran seperti itu, Roem ingin membuat orang-orang miskin korban gigitan anjing gila tak ikutan menjadi gila karena memikirkan ongkos berobat yang teramat mahal.

Arsip surat edaran Menteri Dalam Negeri Mohammad Roem mengenai pembiayaan perjalanan orang-orang yang digigit anjing gila ke Lembaga Pasteur di Bandung.
Arsip surat edaran Menteri Dalam Negeri Mohammad Roem mengenai pembiayaan perjalanan orang-orang yang digigit anjing gila ke Lembaga Pasteur di Bandung.

Pos terkait