Disiksa Tentara, Diselamatkan Abu Tumin

Dayah Abu TUmin Blang Bladeh semasa konflik menjadi tempat berlindung bagi orang-orang yang pernah disiksa tentara.
"Abu Tumin"

Sudah sepuluh hari Tengku Nasir tidak pergi ke mana-mana. Guru agama di Buloh Blang Ara, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, ini hanya fokus melatih santri-santrinya yang bakal mengikuti musabaqah tilawatil Quran.

Di tengah kesibukan itu, ia tiba-tiba diminta menghadap petugas di kantor koramil setempat. Bersama Is, Tengku Nasir berangkat dengan gaya khas tengku: pakai kain sarung.

Setibanya di tempat, Tengku Nasir langsung dibawa tentara ke Markas Korem 011/Lilawangsa Lhokseumawe. Para interogator di Korem Lilawangsa menanyai Tengku Nasir ihwal seorang pemberontak bernama Robert. Tengku Nasir juga diminta memberitahukan keberadaan para gerilyawan Aceh Merdeka yang pernah ikut rapat dengan dia. Namun, Tengku Nasir mengaku tak pernah memimpin rapat yang dimaksud.

Dianggap berbohong, Tengku Nasir kemudian dipukuli dengan kayu broti sampai tulang pahanya patah. Dalam keadaan lemas, tak sanggup bergerak lagi, ia pun masih diinjak-injak.

Tengku Nasir minta diberi kesempatan untuk membersihkan diri atau mandi setelah disiksa, tetapi para interogator malah mengencingi kepalanya. Dia pun tak diperbolehkan menunaikan sembahyang lima waktu.

Tentara akhirnya membawa pulang Tengku Nasir ke desa. Pemulangan ini disertai persyaratan wajib lapor serta ikut gotong royong secara rutin di Kantor Koramil Kuta Makmur. Dan setiap kali mengikuti gotong royong pada hari Minggu, guru agama yang aktif di Partai Persatuan Pembangunan ini masih saja disiksa biarpun fisiknya sudah babak belur.

Oleh sebab tak sanggup lagi menahan kekerasan, Tengku Nasir memutuskan pergi berobat ke Bireuen dan tinggal di dayah asuhan Abu Tumin Blang Bladeh.

“Melalui Abu Tumin, saya tidak lagi diancam,” kata Tengku Nasir.

Tengku Nasir tinggal di dayah Abu Tumin selama enam tahun hingga keluar pernyataan dari pihak militer di Lhokseumawe bahwa ternyata dia bukanlah “Nasir” yang mereka cari. Nasir yang sebenarnya sudah ditangkap. Usai penjelasan ini keluar, Tengku Nasir pulang ke Buloh Blang Ara dan melanjutkan hidup sebagai guru agama di sana.

Kisah Tengku Nasir dirawikan Al-Chaidar dan kawan-kawan dalam buku Aceh Bersimbah Darah: Mengungkap Penerapan Status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh 1989-1998 (1999). Sayangnya, tak disebutkan tahun berapa penangkapan Tengku Nasir terjadi, termasuk kapan persisnya ia meninggalkan dayah Abu Tumin Blang Bladeh.