Diserang Perompak, Dibegal Badui, Dikibuli Syekh: Derita Berlapis Orang-Orang Nusantara di Musim Haji Zaman Dahulu

  • Whatsapp
Jemaah haji asal Nusantara banyak yang diserang orang Badui dan ditipu syekhnya selama berada di Tanah Suci
"Pengadangan di Gurun Pasir"

Sebelum era kapal uap, orang-orang di kepulauan Nusantara telah berangkat ke Tanah Suci dengan kapal layar. Dalam perjalanan yang berbulan-bulan lamanya itu, berbagai bahaya dihadapi.

Tiada kapal khusus haji waktu itu. Secara estafet, orang-orang mesti menumpang di beberapa kapal pengangkut barang dagangan, misalnya milik saudagar Arab atau India.

Bacaan Lainnya

Oleh karena mengangkut benda-benda berharga, kapal-kapal dagang tersebut selalu terancam oleh aksi perompakan. Apalagi di musim haji, para perompak tahu betul kapal tengah mengangkut penumpang-penumpang yang membawa uang dan bekal banyak untuk kebutuhan selama di Tanah Suci dan dalam perjalanan pulang-perginya. Kadang-kadang, para perompak turut membunuh pemilik barang yang mereka rampas.

Setibanya di Tanah Suci, kesengsaraan lain sudah menanti para aspiran gelar haji asal Nusantara, khususnya yang dari Jawa. Kebodohan dan sikap naif mereka telah membuka pintu bagi bermacam kejahatan baru. Hal ini disaksikan langsung oleh Raden Adipati Aria Wiranatakusuma, seorang Bupati Bandung yang naik haji tahun 1924.

Wiranatakusuma menulis kisah perjalanannya (termasuk hasil pengamatan) di Tanah Suci dalam Mijn reis naar Mekka (1925). Naskah ini pertama kali terbit sebagai cerita bersambung di koran Bandung, Algemen Indisch Dagblad de Preangerbode. Lalu oleh sejarawan Henri Chambert-Loir, teksnya diindonesiakan (Perjalanan Saya ke Mekah) untuk dimuat dalam buku Naik Haji di Masa Silam: Kisah-Kisah Orang Indonesia Naik Haji 1482-1964, Jilid II: 1900-1950 (2019, cetakan kedua).

Begal-begal Badui

Dalam catatannya, Wiranatakusuma memberitahu bahwa sering terjadi serangan para begal Badui terhadap orang-orang Nusantara yang sedang melakukan perjalanan antarwilayah, misalnya dari Makkah ke Madinah dan sebaliknya.

Orang-orang Badui yang jahat menunggu mangsanya di kawasan padang pasir yang sepi dan luput dari penjagaan otoritas keamanan setempat. Yang melawan (menolak menyerahkan bawaannya) akan dibunuh.

“Lamanya perjalanan dari Mekah ke Medinah sebelas hari, tiga hari tiga malam lamanya di Medinah, setelah itu pulang kembali ke Mekah … Sampai ke Medinah tiada putus-putusnya orang merampok dan merampas di tengah jalan itu,” tulis Wiranatakusuma.

Suatu hari saat hendak meninggalkan Kota Ta’if, Wiranatakusuma terpaksa membatalkan perjalanan. Sebuah kabar yang datang menyebutkan, di jalan baru saja terjadi penyerangan terhadap kafilah dari Madinah oleh begal-begal Badui. Kafilah tersebut terpaksa kembali ke Madinah, dan dalam perjalanan inilah ada yang mati kelelahan terkena cuaca panas gurun pasir. Sementara yang selamat menanggung derita “tak mempunyai uang sesen jua pun lagi”.

Soal penindakan, Emsoe Abdurrahman menjelaskan: “Baik Sultan Turki maupun Syarif Mekkah tidak mampu mengamankan berbagai kawasan gurun pasir antara Jeddah, Mekkah, dan Madinah. Wilayah itu dikuasai oleh berbagai suku Badui yang kadang meminta pembayaran sejenis pajak, kadang menjarah kafilah yang lewat” (Hadjie Tempo Doeloe: Kisah Klasik Berangkat Haji Zaman Dahulu, 2019: 49).

Namun ada pula orang Nusantara yang selamat karena mengantisipasi begal-begal Badui dengan cerdas. Caranya adalah dengan memberikan makanan yang banyak kepada mereka.

Tindakan tersebut pernah dilakukan seorang bangsawan Sumedang yang naik haji sebelum Wiranatakusuma. Raden Demang Panji Negara tiba di Jeddah tanggal 10 Jumadilakhir 1269 (21 Maret 1853). Dalam risalahnya—yang ditulis dengan huruf Arab Jawi—dia menceritakan: “…setelah itu (setelah dari Madinah—BYP) hamba dengan sekalian jemaah-jemaah hendak balik ke negeri Mekkah serta bersedia makanan-makanan roti buat makanan sendiri dan buat kasih kepada Baduy” (Chambert-Loir, 2019a: 380).

Jelas tak semua orang Badui jahat. Yang baik hati sejibun. Misalnya, Wiranatakusuma menceritakan ia dan kafilahnya pernah beristirahat di sebuah pondok milik orang Badui. Namun demikian, nama Badui tetap saja menakutkan bagi banyak jemaah haji Nusantara waktu itu, terutama orang Jawa.

Orang-orang Jawa acap dihina dengan panggilan “domba Jawah, “hewan ternak”, “sapi perah”, “kambing-kambing”, “sapi tidak bertanduk”, atau “Jawa makan ular”.

Penyebab kebanyakan orang Jawa yang disasar adalah karena mereka datang dari tempat yang jauh. Begal-begal Badui memegang satu keyakinan: kalau seseorang datang ke Tanah Suci dari tempat yang jauh, berarti dia punya banyak uang, bekal makanan, dan harta benda bermutu lainnya (emas, bibit tanaman, pakaian). Dan akibat kebanyakan orang Jawa naif, menguasai semua harta benda mereka adalah persoalan enteng. Peluang ini juga dimanfaatkan oleh syekh-syekh yang busuk hati.

Tipu daya syekh-syekh “hitam”

Hal lain yang dilihat Wiranatakusuma adalah kebanyakan orang Jawa naik haji tanpa bekal pengetahuan memadai mengenai rukun haji. Ambisi atas gelar “haji” tinggi, tetapi ilmu manasik haji dangkal. Ia menjelaskan fenomena ini dengan agak menggelikan:

“Telah empat abad lamanya penduduk Pulau Jawa memangku agama Islam … Orang desa, karena beberapa hal, jarang benar yang mengetahui rukun Islam (mengenai ibadah haji) itu dengan sepatutnya. Banyak pendapat mereka yang berlawanan dengan kehendak Islam. Misalnya saja orang desa itu amat besar takutnya meninggalkan mandi junub, setelah bersetubuh dengan bininya, padahal sembahyang senantiasa ditinggalkan mereka itu” (Chambert-Loir, 2019b: 653).

Mereka yang tak paham tata tertib ibadah haji mau tak mau bergantung sepenuhnya kepada bimbingan syekh-syekh yang ada di Makkah. Di luar urusan peribadahan, ketergantungan terhadap syekh juga disebabkan oleh ketidakmampuan jemaah dalam berbahasa Arab. Padahal bahasa Arab mutlak diperlukan dalam semua aktivitas utama, misalnya untuk mencari tempat tinggal atau unta pengangkut barang.

Dalam satu laporan ringkas bertanggal 19 Juli 1895, Snouck Hurgronje menjelaskan bahwa tanpa kehadiran syekh sebagai juru bahasa, jemaah haji asal Nusantara (apalagi yang dari Jawa) akan “menjadi sasaran pemerasan, penipuan, pencurian oleh penduduk asli”. Dan jangankan yang “bahasa ibunya bukan bahasa Arab”, orang-orang yang cakap bahasa Arab pun kenyataannya banyak yang “tidak mengetahui adat istiadat, kehidupan di kota-kota suci, sarana perjalanan, dan praktik ibadah yang harus mereka lakukan” (ANRI, Biro Perjalanan Haji di Indonesia Masa Kolonial…, 2001: 162-163).

Lain dari itu, berdasarkan yang dilihat Wiranatakusuma, umumnya orang Jawa menilai semua orang di Arab baik dan tak mungkin berkelakuan jahat. Sikap naif inilah yang dimanfaatkan orang Arab pemeras, perampok Badui, dan syekh penipu. Kenaifan berarti tidak bersikap hati-hati.

Sebagai contoh, Wiranatakusuma menceritakan sekelompok jemaah disuruh syekh mereka mengumpulkan uang untuk membeli tiang Masjidilharam. Dikatakan, nantinya uang yang terkumpul bakal diwakafkan untuk masjid sehingga pahalanya amatlah besar. Kemudian terbukti bahwa ini akal-akalan belaka untuk menguras isi kantong kelompok jemaah tersebut.

“Orang desa itu segera saja percaya pada bicara yang sedemikian itu. Maka dengan jalan demikian maka dengan mudah saja seorang Arab menjual tiang Mesjidilharam dengan harga f 300,- kepada orang yang hendak berwakaf itu,” tulis Wiranatakusuma.

Ada juga orang Arab yang memperdagangkan aneka macam jimat dengan harga mahal. Penggemar takhayul dari Jawa tak mau menyia-nyiakan kesempatan memperoleh “jimat-jimat Arab” tersebut. Malahan Wiranatakusuma sendiri mengaku sempat ditawari bertemu “seorang gadis Badui yang cantik” oleh petugas keamanan di Tanah Suci.

Bentuk penipuan lainnya adalah ritual semburan air Zamzam ke wajah. Orang-orang Jawa yang tak tahu mana yang wajib dan yang bukan bagian dari rukun haji dengan mudah digiring ke ritual ini. Syekh akan menyemprotkan air ke wajah mereka dari mulut sebanyak tiga kali, dan untuk setiap semprotan jemaah harus membayar terlebih dahulu.

“Orang Jawa itu setiap hari menjadi bulan-bulanan penipuan,” tulis Snouck.

Syekh, sebagai pemandu manasik haji, sebenarnya pekerjaan yang mulia. Kata Rosihan Anwar (naik haji perdana tahun 1957) dalam Syekh Saya Bernama Gamal, kebaradaan mereka telah terlembagakan selama “beradab-adab lamanya di Negeri Arab” (dalam Chambert-Loir, 2019c: 986).

Akan tetapi tidak semua syekh adalah orang baik-baik. Sebagian syekh memang memancarkan kewibawaan spiritual sejati. Snouck menyebut syekh jenis ini sebagai “syekh yang berjasa” dan “orang yang jujur yang membantu orang asing”. Tetapi di sekitar para syekh baik, berkeliaran pula syekh-syekh jahat yang gemar menipu jemaah-jemaah naif dan kurang ilmu agamanya. Termasuk yang bermain dalam kejahatan ini adalah badal syekh (orang yang menjadi agen para syekh untuk mencari mangsa).

Kenaifan terhadap orang Arab yang membawa petaka besar misalnya menimpa seorang perempuan yang naik haji bersama keluarga besar dan handai tolannya. Oleh seorang badal syekh, rombongan ini diberikan hunian yang nyaman. Mendapat perlakuan baik, si perempuan lantas ingin sekali diperistri oleh si badal. Keluarga besarnya sepakat pula mengangkat badal itu sebagai syekh mereka. Namun setibanya di Makkah, setelah berhasil menguasai banyak uang keluarga istrinya, syekh malah menjatuhkan talak. Mantan istri dan rombongannya ditelantarkan begitu saja.

“Bahkan beras yang dibawa, dilarikan pula oleh badal jahanam itu,” ungkap Wiranatakusuma.

Tipu daya, pembegalan, dan pemerasan di sekitar Baitulharam akhirnya menjatuhkan banyak hamba Allah ke dalam kemelaratan berkepanjangan. Tak sedikit yang mati kelaparan. Sementara nasib yang selamat juga tak lebih baik. Banyak yang menjadi pengemis, banyak juga yang diculik lalu dijual sebagai budak.

Wiranatakusuma menceritakannya dengan miris:

“Mereka yang tertipu demikian terpaksalah minta-minta di negeri orang itu, setiap hari diserang lapar dan dahaga. Banyak di antaranya yang mati karena tiada kuat lagi berlawanan dengan sengsara yang amat hebat menyerangnya itu. Akan tetapi tiada seorang jua merisaukannya di sana, karena masing-masing harus menjaga diri sendiri”.

Pos terkait