Kekejaman Letnan Tambunan di Bireuen: Memeras Tahanan, Menyetrum Kemaluan, Memerkosa Perempuan

DI/TII Bireuen, sejarah bireuen, Letnan Tambunan alias Black menyiksa dan memperkosa perempuan Bireuen
"Setrum" (Sumber: hrw.org)

Letnan Tambunan sepertinya orang yang tak sanggup dilawan oleh siapa pun di Bireuen semasa pemberontakan Darul Islam Aceh. Kelakuannya nyaris mirip binatang buas ketika marah. Siapa pun yang ditangkap oleh dia tak bakal mendapatkan belas kasih. Tambunan tanpa ampun akan menyiksa mereka dengan macam-macam cara. Seandainya pada suatu malam ia berhasil menangkap seribu orang, maka malam itu akan menjadi malam seribu jeritan.

Di kalangan warga Bireuen, Letnan Tambunan dikenal luas dengan panggilan “Si Black”. Ia anggota Batalion ROI-1 B Bireuen, tetapi untuk alasan tertentu kemudian ditugaskan di Corps Polisi Militer (CPM) setempat.

Selain kejam, Black juga dikenal sebagai prajurit korup. Dia mengirim pesan kepada setiap kepala desa di Bireuen untuk memberitahu bahwa mereka harus menyerahkan uang sebanyak Rp 15 serta 20 bambu beras kalau tak ingin ditangkap. Black akan memberikan “surat bebas” dari penangkapan kepada siapa pun yang bersedia menyetor.

Black dibantu beberapa warga setempat saat mengumpulkan uang dan beras dari penduduk. Mereka, antara lain, adalah T. Lateh, Jusuf Adam, Guru Husin Jusuf, dan Abubakar (anak T. Lateh). Di antara mereka, tampaknya T. Lateh memegang peranan paling penting. Kepada warga, dia mengaku sebagai “pembantu angkatan perang”. Dengan demikian, siapa pun yang ingin memperoleh bantuan agar terhindar dari penangkapan oleh si Black bisa meminta pertolongan padanya dengan syarat menyetor uang dan beras.

Setiap uang setoran sebesar Rp 15 kemudian dibagi tiga. Black, Lateh, dan seorang juru tulis masing-masing mendapat Rp 5. Beras yang terkumpul pun mereka bagi-bagi.

Kekejaman si Black

Orang-orang yang ditangkap atas tuduhan terlibat pemberontakan bakal disiksa habis-habisan oleh Black dan anak buahnya. Laki-laki maupun perempuan tak dibedakan.

Mereka dipukul bertubi-tubi. Alat kelamin mereka disetrum berulang-ulang. Tengku Tjut Adik, seorang guru agama, bahkan dipaksa menelan bir sampai mabuk. Orang-orang lain yang sempat mengalami kebuasan si Black adalah Haji Abubakar Amin (saudagar), Husin (pegawai Jawatan Penerangan Bireuen), dan Ali (guru Sekolah Rakyat Geurugok).

Black kemudian menyuruh anak buahnya minta uang tebusan sekian ribu rupiah dari setiap keluarga tahanan yang sedang ia siksa. Hanya keluarga yang bersedia membayar tebusanlah yang akan bertemu lagi dengan kerabat mereka. Uang tebusan ini membuat seseorang dibebaskan sekaligus tak akan dituntut lagi. Tak ada pembebasan gratis.

Aksi main peras ini dilakukan Black secara sembunyi-sembunyi; tanpa sepengetahuan komandan dan anggota CPM Bireuen lain. Pasalnya, Black melarang tahanan dan keluarganya memberitahukan adanya uang tebusan tersebut kepada siapa pun, terutama anggota TNI dan polisi. Inilah mengapa ia bekerja sama dengan warga biasa dalam memeras warga dan para tahanan.

Menurut informasi yang dirangkum A. H. Geulanggang, sejak awal pemberontakan Darul Islam Aceh hingga bulan Mei 1955 “tidak kurang dari 150 orang yang setelah dianiaya lalu diperas” oleh Black dan gerombolannya (Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. SM Amin, 1955: 99-101).

Catatan itu juga menyebutkan bahwa banyak “pemerkosaan dilakukan Black dan kawan-kawannya di daerah Bireuen”. Sayangnya, Geulanggang enggan mengungkap lebih jauh keterlibatan Black dalam kejahatan seksual di Bireuen. “Kita rasa tidak begitu perlu dituliskan di sini,” Geulanggang menyudahi.