Konser Dina Mariana di Matangglumpang Dua: Panggung Dibakar, Penyanyi Dikejar

Konser Dina Mariana di Aceh Utara pada September 1989 berakhir ricuh. Konser yang tadinya diumumkan akan berlangsung sampai tengah malam, nyatanya cuma berlangsung selama dua jam.
"Dina Mariana". Sumber gambar: last.fm

Jam delapan malam, sekitar 10.000-an orang sudah berkumpul di Lapangan Matangglumpang Dua, Kabupaten Aceh Utara (sekarang Kabupaten Bireuen). Orang-orang haus hiburan ini sudah tak sabar melihat langsung sosok penyanyi lincah Dina Mariana di atas panggung.

Seperti dijanjikan pihak panitia, konser akan berlangsung sampai tengah malam. Biar para pembeli tiket merasa puas.

Dina Mariana sendiri waktu itu sudah punya cukup lagu untuk menghibur penonton hingga tengah malam. Gadis blasteran Belanda-Gorontalo dengan nama belakang “Heuvelman” itu bersiap menyanyikan Ingat Kamu, sebuah lagu yang dirilis tahun 1988. Tembang-tembang hit dia lainnya adalah Jejaka Aku Cinta Kamu, Malam Minggu Kelabu, atau dendang berjudul Pak Penghulu yang liriknya cukup jenaka:

Abdullah melamarnya, Anita menerima
Mas kawinnya kerbau India
Pak penghulu, pak penghulu, tolong dong nikahkan dia
Pengantinnya sudah tak tahan menunggu malam pertama

Selain lagu-lagu pop tersebut, Dina Mariana juga sudah ditunggu untuk menyanyikan Sekedar Bertanya, sebuah dendang dangdut yang liriknya telah dihafal banyak orang. Boleh jadi, inilah lagu yang paling ingin dinyanyikan para penggemar Dina Mariana di Aceh bersama penyanyinya langsung.

Tetapi entah kenapa, Dina Mariana tak muncul-muncul setelah ditunggu cukup lama. Pihak panitia terus mengundur-undur waktu pertunjukan. Penonton pun mulai resah. Mereka mulai menyoraki panitia dan memanggil penyanyi kelahiran 21 Agustus 1965 itu. Untunglah sebentar kemudian Dina Mariana muncul di panggung yang dibuat di atas sebuah truk. Penonton menyambutnya dengan girang.

Sayangnya, konser malam itu cuma berlangsung selama 2 jam. Dina Mariana pun hanya membawakan 4 lagu. Jelas-jelas ini tak bikin puas. Panitia diteriaki agar memperpanjang waktu acara, tetapi tak menggubris. Dari sinilah penonton yang sakit hati mulai mengamuk.

“Puntung-puntung rokok dan batu mulai dilempar ke panggung. Panitia juga tidak menghiraukannya. Ketika amarah massa tidak terbendung lagi, panggung diserbu, dan semua peralatan yang ada kemudian dihancurkan,” tulis majalah Editor dalam berita berjudul “Kerusuhan Tanpa Izin” (30 September 1989).

Di tengah kekacauan, nyaring terdengar tangisan dan teriakan di sana-sini. Penonton yang tak mau ikut-ikutan merusuh segera berebut jalan keluar untuk meloloskan diri. Petugas keamanan konser tak mampu mengatasi keadaan.

Kapolda Marah

Konser musik pada September 1989 itu telah berubah bak arena tempur. Apalagi sejumlah orang berhasil membuat suasana bertambah keruh. Mereka sengaja menyebarkan isu bahwa polisi telah menangkap dua pemuda. Provokasi ini bikin amarah massa semakin berkobar. Polisi segera menjadi sasaran pelampiasan baru. Polsek Peusangan yang cuma berjarak kira-kira 500 meter dari tempat konser diserbu lalu dibakar.

Dua pucuk senjata laras panjang dan dua sepeda motor punya polisi yang sedang piket ikut terbakar. Warga yang tinggal di sekitar kantor polsek secepatnya menyiram air biar api tak menjalar ke tempat tinggal mereka.

Selang beberapa lama, datanglah tiga truk yang mengangkut tentara dari Batalyon 113 Bireuen dan Kodim 0103 Lhokseumawe. Kerusuhan akhirnya bisa ditangani.

Kapolres Aceh Utara Letkol Polisi Sutardjo segera menyelidiki kejadian itu. Dia ingin memburu dua pihak: provokator dan ketua panitia konser. Dari 64 orang yang berhasil ditangkap dan ditahan di Markas kodim Lhokseumawe, tidak ada Muzakir si ketua penitia. Lelaki berumur 33 tahun itu diduga melarikan diri karena takut mempertanggungjawabkan kesalahannya, yakni menggelar konser tanpa izin dari kepolisian setempat.

“Untuk pertunjukan itu, saya tidak pernah mengeluarkan izin,” kata Sutardjo. Seorang anak buahnya menambahkan: “Orang yang tidak bertanggung jawab itu sedang kami cari”.

Kapolda Aceh M. Ali Talha ikut bersuara. Dia juga menilai pihak penyelenggara telah gegabah dalam penyelenggaraan konser Dina Mariana di Aceh Utara. Seharusnya ada izin dan polisi dilibatkan sebagai petugas pengamanan. “Tidak akan ada pandang bulu. Siapa saja yang terlibat akan kami tindak,” seru Kapolda.

Yang melegakan: tidak ada orang yang tewas akibat kerusuhan malam itu. Meski sempat diburu sejumlah penonton yang kecewa, Dina Mariana berhasil keluar hidup-hidup dari lokasi konser.