Laki-Laki yang Mengatai Ulama Aceh Pencuri dan Pembunuh

Ulama Aceh dituduh oleh T.T. Hanafiah sebagai pencuri dan pembunuh
Arsip surat permohonan penempelan selebaran bantahan terhadap T. T. Hanafiah kepada Gubernur Aceh.

Penentangan kelompok uleebalang terhadap para pemimpin Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) rupanya terus berlanjut setelah Peristiwa Cumbok. Sebagian uleebalang yang selamat dari pertempuran kemudian mengamankan diri ke luar Aceh, misalnya menuju Medan atau Jakarta. Dari sana perlawanan dilanjutkan dengan cara baru, yakni lewat tulisan-tulisan di surat kabar.

Menulis ejekan, kekurangan, atau makian terhadap ulama-ulama Aceh di tempat yang jauh dari jangkauan pengikut mereka pasti bisa dilakukan dengan leluasa dan perasaan aman. Tulisan-tulisan bisa terus dihasilkan tanpa perlu khawatir tiba-tiba ditebas dari belakang.

Ada satu kisah mengenai ini yang terjadi tahun 1950.

Teuku Teungoh Hanafiah (dalam beberapa publikasi namanya disingkat T. T. Hanafiah) boleh jadi merupakan sosok uleebalang yang paling banyak dimaki waktu itu. Di Indonesia Raya, sebuah koran yang terbit di Jakarta, Hanafiah menulis sejumlah artikel yang bikin panas hati Pengurus Besar PUSA dan Pemuda PUSA (orang-orang PUSA).

Dalam satu artikel di edisi Nomor 184 (11 Agustus), Hanafiah mengatakan bahwa ulama-ulama Aceh adalah perampok, pembunuh, pencuri. Para pemimpin PUSA dikatainya pula sebagai kolaborator Belanda.

Dalam edisi berikutnya, 22 Agustus (Nomor 193), dia malah menuduh para pemimpin PUSA-lah yang membentuk Comite van Ontvangst, sebuah panitia penyambut kedatangan kembali Belanda di Aceh setelah kapitulasi Jepang. Turut pula ia mengatakan Partai Masyumi di Aceh sebagai tempat berlindung ulama-ulama bandit (Dispursip Aceh, “Surat Pengurus Besar PUSA/Pemuda PUSA Kutaradja. Dikirim dengan Hormat kepada Saudara T.T Hanafiah”. Nomor arsip: AC02-51/3-51.1).

Orang-orang PUSA marah besar atas tuduhan tersebut. Tulisan bantahan dalam bentuk selebaran segera dibuat dan mulai diedarkan pada bulan September. Jawatan Penerangan Aceh diminta menempelkan selebaran klarifikasi tersebut di dinding kantor-kantor pemerintah, biar dibaca orang banyak. Namun permohonan penempelan disampaikan melalui Gubernur Aceh, bukan langsung kepada Jawatan Penerangan. Berikut bunyi permohonannya:

“Mengingat beberapa tulisan T.T. Hanafiah jang menghasud dan menghinakan PUSA/Pemuda PUSA, maka PUSA dan Pemuda PUSA telah mengeluarkan maklumatnja. Maklumat tersebut kami kirim kehadapan Padukan Tuan (Gubernur Aceh Daud Beureueh—pen) dengan pengharapan agar Paduka Tuan tolong sampaikan kepada segala tjabang2 Pemerintahan di Atjeh supaja dapat ditempel di Kantornja dan supaja dapat menjadi archief masing2 kantor”.

Selebaran yang dibuat sebenarnya ada dua lembar. Yang pertama berjudul “Pengumuman P.U.S.A./Pemuda P.U.S.A”. Pamflet ini mengatasnamakan pengurus besar kedua organisasi tersebut. Pamflet kedua judulnya “Ulama-ulama Dituduh oleh T. T. Hanafiah Mendjual Atjeh kepada Belanda”. Ditulis dengan tinta warna merah dan mengatasnamakan “Putra Ulama”. Keduanya punya perbedaan dalam bentuk penulisan: yang pertama bergaya narasi, yang kedua berupa poin-poin tuduhan terhadap ulama. Namun isinya sama-sama mencela Hanafiah sebagai orang sesat.

Hanafiah dinilai tak tahu terima kasih atas usaha para pemimpin PUSA dalam menghentikan aksi-aksi kekerasan lanjutan terhadap kaum uleebalang. Karena kalau tak dicegah ulama, pasti akan lebih banyak uleebalang yang dibunuh rakyat Aceh. Begini bunyi kalimat penjernihan dalam selebaran yang naratif itu:

“…tiada padanja rasa terima kasih dan pertimbangan jang sehat … Dia tidak fikir bahwa kalau bukan karena Ulama2, maka segala bangsawan Atjeh, besar ketjil, laki perempuan, habis dibunuh oleh rakjat, karena chianatnja kepada Tanah Air dan Kemerdekaan Indonesia dan kekedjaman jang dilakukan itu. T.T. Hanafiah tidak berfikir bahwa kalau tidak dilarang oleh Ulama2 Atjeh maka segala harta bangsawan2 jang merampok, merampas, mentjuri, membakar rumah dan sebagainja sudah habis diambil oleh rakjat sebagai ganti harta mereka itu masing2”.

Pernyataan di atas bukan cuma hendak meluruskan komentar Hanafiah, namun juga menuduh balik bahwa para teuku-lah yang sebenarnya telah membunuh dan merampok rakyat Aceh saat mereka berkuasa dalam pendudukan Belanda. Sementara mengenai tuduhan sebagai pendiri Comite van Ontvangst, perjernihan dibuat dengan mengungkapkan peran Hanafiah di dalam komite tersebut:

“T. T. Hanafiah sendiri sebagai Secretaris Djenderaal dari Comite van Ontvangst Belanda jang berpusat di Kutaradja, tetapi dia berani menuduh PUSA dan Pemuda Pusa jg membikinnja. Sungguh gandjil dan pandai sekali T. T. Hanafiah tjuji muka dgn kentjingnja”.

Alasan Hanafiah membuat tuduhan-tuduhan tersebut dapat dipahami orang-orang PUSA. Dalam selebaran diterangkan bahwa Hanafiah masih merasa dendam karena “semua familinja dan famili isterinja habis dibunuh oleh rakjat karena berchianat”. Siapakah nama orangtua Hanafiah? Dalam selebaran tidak disebutkan. Dia cuma diterangkan sebagai “seorang anak feodal besar dari Simpang Ulim”. Satu-satunya nama anggota keluarganya yang ditulis dalam selebaran adalah Teuku Hoesin (abang Hanafiah).

Yang agak menarik, kedua selebaran itu tak menyebutkan bahwa Hanafiah sebenarnya merupakan kemenakan Teuku Nyak Arief. Namun penulis tidak mengetahui Hanafiah anak dari saudara kandung Arief yang mana. Sementara Arief sendiri memiliki empat saudara kandung: Cut Nyak Asmah, Cut Nyak Mariah, Cut Nyak Samsiah, dan Teuku Mohammad Yusuf (Mardanas Safwan, Pahlawan Nasional Mayjen. Teuku Nyak Arif, 1976: 23).

Seruan memburu Hanafiah

Meskipun orang-orang PUSA bisa memahami dendam Hanafiah didasari oleh penderitaannya di masa lalu, tetapi tuduhan-tuduhan itu tetap tak bisa diterima. Hanafiah disebut telah berani membuat “hutang baru” yang “tidak mudah dia akan dapat membajarnya”. Dan demi memperoleh pertanggungjawaban Hanafiah atas “hutang” tersebut, orang-orang PUSA menyerukan perburuan terhadapnya.  Begini seruan tersebut ditulis:

“Dari itu kami berseru: ‘Bersatulah kaum Ulama dan rakjat seperti bermula. Ingatlah tiap2 jang berhutang akan ditagih dan tiap2 jang memberi hutang akan menagih, kapan ada kesempatan terbuka’. Sekianlah agar mendapat perhatian sepenuhnja”.

Usaha membalas Hanafiah ini tidak main-main. Kesungguhannya bisa dilihat dari cukup agitatifnya pernyataan penutup pada sebelaran yang bertinta merah:

“WAHAI AJAH2 KAMI KAUM ULAMA ! Wahai seluruh rakjat Atjeh jang tjinta Agama ! Kita telah dihinakan oleh T. T. Hanafiah, sisa feodal jang sekarang berada di Djakarta. Karena itu, bangun serentaklah wahai seluruh rakjat. Adakan rapat umum dan rapat chusus dimana2 tempat, untuk memprotes dan menentang penghinaan jang sebesar2nja ini. Kepada pimpinan Pusa dan masjumi kami serukan, supaja mengadakan protes dan tentangan jang sehebat-hebatnja. Ingat wahai saudara2ku, kalau kita masih lengah nanti kaum feodal akan mendjajah kita kembali. T. T. Hanafiah hanja seorang dari sisa2 kaum feodal jang masih banjak”.

Tampaknya Hanafiah tak khawatir dengan ancaman tersebut. Setelah tiga tahun diinternir di Takengon bersama para uleebalang lainnya, dia kemudian pergi ke Jawa, menetap di sana, dan bekerja di bidang pelayaran (tidak disebutkan nama perusahaannya). Dia sudah jauh dari jangkauan orang-orang yang ingin menebas lehernya.

Saat di Jakarta inilah Hanafiah cukup leluasa memelopori kegiatan anti-pemerintahan PUSA (Hasanuddin Yusuf Adan, Teungku Muhammad Daud Beureu-eh: Ulama, Pemimpin, dan Tokoh Pembaharuan, 2005: 80). Sebagaimana ditulis dalam selebaran, selama berada di Jakarta Hanafiah terus “mentjoba2 mempengaruhi pemimpin2 dari Djawa” dengan mengatakan ulama-ulama PUSA adalah “alat kolonial Belanda untuk menindas gerakan kemerdekaan”.

Hanafiah ingin sekali menempelkan cap anti-Republik pada wajah para pemimpin PUSA agar nasionalis-nasionalis petinggi negara semakin bersikap antipati terhadap mereka.