Mengkhianati Kemerdekaan Indonesia demi Uang Rp 20.000

Abdullah Titeue mengkhianati perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia karena disuap oleh kelompok pro-Belanda di Aceh. Keputusannya itu ditentang oleh Hasan Saleh.
"Hasan Saleh"

Hasan Saleh dan Teuku Abdullah Titeue sudah berteman lama. Sewaktu berlangsung penggemblengan pemuda-pemuda Aceh ke dalam kemiliteran Jepang, keduanya turut bergabung. Mereka menyandang pangkat yang sama: pembantu letnan.

Sayangnya setelah Jepang mengumumkan kapitulasi pada 15 Agustus 1945, Abdullah dan Saleh kehilangan posisi sehingga berpisah. Biarpun tak lagi berada dalam satu barisan, intimasi keduanya tetap terjaga; mereka terus bersahabat sebagai pemuda nasionalis yang amat cinta pada Soekarno-Hatta serta kemerdekaan Indonesia.

Pada kemudian hari, mereka bisa bersatu kembali ketika dibentuk sebuah organisasi bernama Angkatan Pemuda Indonesia. Organisasi ini merekrut para pemuda bekas didikan militer Jepang, dengan tujuan utama untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan Belanda. Setelah Jepang kalah, setelah Proklamasi 17 Agustus, Belanda bangun untuk berkuasa kembali. Para pemuda Aceh tak mau berlama-lama menunggu instruksi komando militer dari Jakarta. Mereka lekas membentuk API untuk mengobarkan api perlawanan.

Di API, Abdullah dan Saleh diberikan tugas untuk membentuk Kompi VII Lamlo di Kabupaten Pidie. Abdullah diangkat sebagai komandan kompi, sedangkan Saleh menjadi wakil. Dari segi postur tubuh, Abdullah memang lebih cocok menjabat komandan.

“Badannya ramping, tinggi, atletis. Suaranya agak serak, tetapi cukup terang. Gayanya terpelihara: gaya ningrat. Humornya berbau cabul, sedangkan rasa keagamaannya tipis sekali,” tulis Hasan Saleh dalam memoar Mengapa Aceh Bergolak: Bertarung untuk Kepentingan Bangsa dan Bersabung untuk Kepentingan Daerah (1992).

Di memoar itu Saleh mengakui Kompi VII Lamlo terlambat pembentukannya oleh karena sang komandan, Teuku Abdullah Titeue, masih bertahan di Panton Labu, Kabupaten Aceh Utara. Sebelum menyerah, militer Jepang di Aceh Utara sempat menunjuk Abdullah sebagai Komandan Kompi Dairi Gyugun di sana. Selang beberapa waktu kemudian barulah ia kembali ke Pidie untuk merampungkan pendirian kompinya.

Tetapi ketika Kompi VII Lamlo baru berhasil terbentuk, Abdullah pergi lagi. Kepada Saleh, ia mengatakan akan ke dataran tinggi Tangse selama satu minggu. Di sana ada tugas teritorial yang mesti diberesi. Dan setelah pekerjaan selesai, Abdullah ingin beristirahat sebentar sambil menikmati udara segar pegunungan. Tugas mengomandoi pasukan secara mutlak, untuk sementara waktu dialihkan kepada Saleh.

Rupanya Abdullah berdusta. Setelah seminggu, ia belum juga kembali ke markas. Abdullah baru pulang dua minggu kemudian, dan belakangan Saleh menerima laporan bahwa atasannya itu bukan pergi ke Tangse. Selama dua minggu tersebut Abdullah berkeliling Aceh, mengunjungi semua kabupaten, kecuali Aceh Barat dan Aceh Selatan.

Begitu Abdullah tiba kembali di markas, dia segera mengumpulkan pasukan untuk mengumumkan sesuatu. Tanpa disangka-sangka, dalam pengerahan tersebut Abdullah menyampaikan pengunduran dirinya.

“Saya sudah pikirkan masak-masak dan pertimbangkan dengan matang bahwa saya terpaksa mengundurkan diri dari kompi ini. Saya tidak mau lagi ikut mempertahankan proklamasi Soekarno-Hatta!” seru Abdullah.

Mendengar pernyataan itu, Hasan Saleh mengeluarkan protes keras. Ia mendesak Abdullah membatalkan pengunduran diri serta menarik kata-katanya. Saleh juga mengatakan, kalau Abdullah tetap berada di jalur perjuangan mungkin kelak ia bisa menjadi seorang jenderal tentara nasional. Tetapi Abdullah menanggapi bujukan tersebut dengan jawaban buruk: “Jenderal apa? Jenderal taik? Jenderal monyet?”

Biarpun diejek, Saleh masih menunjukkan rasa hormat dan kesopanan yang tinggi kepada atasannya itu. Ia tetap memakai “Ampon” (sapaan untuk memuliakan laki-laki Aceh keturunan bangsawan/sultan) saat memanggil Abdullah.

“Dulu Ampon mengatakan akan naik ke Tangse untuk cuti, sekaligus melakukan tugas teritorial. Mengapa kemudian berkeliling ke hampir seluruh Aceh?”

“Niat semula ke Tangse dibatalkan, karena saya ingin mengetahui lebih mendalam situasi yang sedang berkembang, agar kita tidak jatuh ke dalam perangkap pemuda avonturir di Jakarta sana”

Yang dimaksud “pemuda avonturir” adalah para pemuda di Jakarta yang mendesak Soekarno untuk membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus. Menurut Abdullah, tindakan tersebut keliru. Aceh sebaiknya tidak ikut-ikutan merayakan proklamasi. Aceh harus bersatu dengan Belanda yang punya daya besar, sehingga dapat menjamin keselamatan rakyat.

“Apakah menyerahkan Aceh dan masyarakatnya bulat-bulat kepada Belanda berarti suatu usaha penyelamatan menurut Ampon?”

“Benar, karena kita tidak sanggup melawan mereka”

“Mengapa Ampon mengatakan bahwa kita tidak sanggup melawan mereka, padahal belum pernah kita mencobanya?”

“Pengalaman dulu menunjukkan bahwa kita tidak sanggup melawan mereka”

“Dulu kita kalah karena kita sendirian. Sekarang bukankah seluruh daerah dan rakyat Indonesia bersama-sama bangkit melawan mereka?”

“Saya tidak percaya hal itu, karena rakyat tidak mempunyai apa-apa, sedangkan Belanda mempunyai segala-galanya. Itulah sebabnya maka Soekarno-Hatta sebenarnya enggan membaca proklamasi”

Lama-kelamaan, adu mulut keduanya semakin panas sampai jadi saling maki dan ancam. Abdullah yang tak terima dicap kacung Belanda oleh Saleh lantas berteriak: “Besok akan ku bunuh kau!”

“Besok akan ku isap darahmu!” balas Saleh.

“Engkau anjing Jepang kemarin!”

“Engkau anjing Belanda kemarin dan hari ini!”

“Kau pendukung PUSA (organisasi ulama anti Belanda—pen). Akan ku habiskan PUSA-mu!”

“Kau pendukung uleebalang (hulubalang Aceh yang pro-Belanda—pen). Akan ku habiskan uleebalang-mu!”

“Kau pendukung Soekarno. Nanti kau akan tahu jadi apa Seokarno-mu itu!”

“Kau pendukung Wilhelmina (Ratu Belanda). Nanti akan kau tahu nasib Wilhelmina-mu!”

“Nanti ku hajar dirimu!”

“Silakan sekarang juga!”

“Sudah lama golongan kamu ingin merampas kerajaan kami”

“Memangnya kerajaan-kerajaan itu kepunyaan mamakmu?”

Abdullah pun murka karena orangtuanya dibawa-bawa. Segera ia menggenggam gagang rencongnya lalu menjerit di hadapan pasukan kompi: “Jangan ikut anjing PUSA-Jepang ini!”

Melihat gelagat Abdullah, Saleh cepat-cepat memegang pisau militernya sambil berkata: “Jangan turuti anjing uleebalang Belanda ini!”

Adu mulut pun berhenti. Abdullah dan Saleh mulai pasang kuda-kuda untuk melancarkan serangan. Tetapi belum sempat pisau dan rencong terhunus, seorang sersan bernama Sabon Amin melompat ke arah keduanya. Sabon memeluk Saleh dan Abdullah, lalu diikuti pasukan lainnya.

“Bunuhlah kami, bunuhlah kami, bunuhlah kami!” teriak Sabon Amin sambil menangis. Semua anggota Kompi VII Lamlo turut terisak.

Sepuluh menit kemudian, setelah suasana tenang, Abdullah mengulurkan tangan kanannya ke hadapan Saleh.

“Saudara adalah kawan saya dunia-akhirat. Maukah Saudara memaafkan kekeliruan saya tadi?” tanya Abdullah

“Maafkanlah kekhilafan saya tadi,” sahut Saleh.

Keduanya berpelukan. Abdullah menumpahkan air mata di atas bahu Saleh. Demikian sebaliknya. Keduanya menangis cukup lama. Momen ini membuat pasukan Kompi VII Lamlo kembali menangis bersama-sama. Saleh sendiri menyesal karena bukan dia yang pertama meminta maaf. Saleh juga berterima kasih kepada Sabon Amin karena telah berani memulai peleraian. Barangkali jika Sabon Amin tak bertindak, mungkin komandan dan wakil komandan kompi sudah saling cincang.

Rekonsilisasi sesaat

Keesokannya, jam sebelas siang, Saleh berangkat ke markas dengan pikiran bahwa Abdullah pasti telah insaf; Abdullah dipercaya akan tetap dalam barisan kaum nasionalis, tak akan bergabung dengan Pasukan Cumbok yang ingin menyokong Belanda untuk menggagalkan kemerdekaan Indonesia.

Akan tetapi angan-angan itu sungguh berbeda dengan fakta yang Saleh lihat di markas. Nyaris seluruh pasukan tak lagi di tempat. Mereka telah digiring Abdullah untuk membelot ke barisan Pasukan Cumbok yang anti-Republik. Hanya tersisa beberapa pemuda yang tetap loyal, salah satunya Sabon Amin.

Diketahui kemudian, jabatan yang diterima Abdullah dalam barisan pro-Belanda tersebut adalah Kepala Staf Pasukan Cumbok. Dan bukan cuma prajurit, sebagian besar perabotan di Markas Kompi VII Lamlo juga telah diangkut. Satu dari sedikit benda yang tak diambil oleh para pembelot adalah Bendera Merah Putih.

Sejak kejadian itu Teuku Abdullah Titeue dan Hasan Saleh menjalani hubungan yang labil. Keduanya memang tetap berteman setelah Abdullah berkhianat, tetapi pertemanan ini kadang meletup lagi menjadi perkelahian serius.

Suatu hari, Saleh sedang bersepeda melewati jembatan sebuah desa di Kabupaten Pidie. Dari jauh ia melihat ada sekelompok orang berseragam sedang berlatih ketentaraan. Ketika hendak melewati kelompok tersebut, Saleh berhenti mengayuh lalu berjalan kaki sambil mendorong sepedanya. Tiba-tiba seorang pria berbadan tinggi menghampiri. Dari topi di kepala sampai sepatu di kakinya adalah seragam Belanda. Begitu jaraknya sudah dekat, barulah Saleh bisa mengenali bahwa pria tersebut adalah teman lamanya.

“Apa kabar?” sapa Abdullah

“Kabar baik, Ampon,” jawab Saleh dengan sopan.

Pada kesempatan jumpa itu Abdullah memohon maaf karena telah merampas banyak perkakas di Markas Kompi VII Lamlo. Saleh memaafkan. Usai melepas rindu di bawah pohon kapuk, keduanya berpisah dalam suasana damai.

Cuma selang beberapa hari, keharmonisan tersebut retak kembali. Masalah dipicu oleh aksi penurunan Bendera Merah Putih yang dilakukan Pasukan Cumbok atas perintah Abdullah. Padahal saat masih seorang nasionalis, setiap pagi Abdullah menyuruh penduduk menaikkan Bendera Merah Putih di depan rumah masing-masing; dia kesal kalau ada yang tak mengibarkan bendera.

Aksi pelucutan bendera tersebut membuat marah rakyat yang tak senang dengan kelakuan para hulubalang. Mereka hendak melancarkan serangan balasan. Saleh yang ikut gusar lantas mendatangi Abdullah.

“Dapatkah Saudara nanti menghadapi kemarahan rakyat?”

“Rakyat mana? Rakyat kampungan tadi?”

Belum sempat Saleh menjawab, Abdullah melanjutkan penghinaannya: “Saudara kira kami takut akan gertak sambal yang Saudara perlihatkan tadi? Sepuluh kali lipat dari itu boleh kalian datangkan, kami tidak takut sama kawanan domba!”

Pengkhianatan Seharga Rp 20.000

Awal 1946, setelah pertempuran berulang-ulang sejak Desember 1945, Pasukan Cumbok mulai melemah. Banyak hulubalang ditangkap dan dibunuh. Abdullah termasuk yang berhasil disergap lalu dilempar ke dalam kerangkeng.

Di dalam penjara, ia menulis surat untuk Saleh. Abdullah mengaku amat menyesal telah mengkhianati API, mengkhianati perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam surat tersebut Abdullah mengungkapkan sosok yang telah membuatnya membelot adalah abang iparnya, yakni Teuku Daud Cumbok. Cumbok adalah suami dari Cut Adek, kakak kandung Abdullah.

Oleh Cumbok, Abdullah diberikan uang sebanyak Rp 20.000 untuk meninggalkan Kompi VII Lamlo serta membawa pasukannya untuk berpihak kepada Belanda. Namun memoar Saleh tak menjelaskan apakah uang sebanyak itu hanya dinikmati Abdullah seorang diri, ataukah sebagiannya dibagi-bagikan kepada para pemuda yang bersedia menyeberang.

Tiada dendam atau amarah yang membakar Hasan Saleh ketika surat tersebut ia baca. Saleh justru selalu menangis manakala memikirkan nasib sahabatnya yang telah kehilangan daya. Setiap kali menjenguk Abdullah di penjara, air matanya tumpah.

Suatu pagi, Saleh bergegas berangkat ke penjara guna memberitahu Abdullah bahwa pada hari itu dia bakal dibebaskan. Tokoh-tokoh nasionalis di Aceh yang dilobi bersedia memberikan pembebasan. Sayangnya belum sempat kabar gembira tersebut disampaikan, Saleh menerima kabar bahwa sahabatnya itu sudah dihabisi dalam gelap gulita jam empat pagi.

Sebelum dieksekusi, Abdullah sempat menuturkan sebuah nasihat kepada para pemuda di sekelilingnya: “Janganlah kalian turuti pengkhianatan saya. Turutilah kepahlawanan Saudara Hasan Saleh. Berjuanglah untuk kemerdekaan Tanah Air kita”.

Penulis: Bisma Yadhi Putra