Abdullah Pasi, Pejuang Aceh yang Dilarang Mengumandangkan Azan

Abdullah Pasi adalah seorang pemberontak Aceh Merdeka yang mengalami gangguan jiwa. Ia sering mengumandangkan azan ti tengah rimba. Hal ini dilarang oleh para pemimpin pemberontak. Larangan azan dibuat demi keselamatan semua orang.
"Rimba". Sumber: pixabay.com

Pada 17 Januari 1980, sekelompok tokoh Aceh Merdeka bermufakat untuk mengatur strategi masuk ke hutan demi menjauhi kejaran tentara. Mereka adalah Shaiman, Nyak Uma, Abdullah, Tengku Do, dan Husaini M. Hasan.

Kelimanya kemudian bertolak ke hutan pada keesokan malam, setelah sembahyang Magrib. Untuk mencapai sebuah tempat di hutan Bate Iliek (sekarang dalam Kabupaten Bireuen), mereka harus menyusuri dua sungai: Krueng Pandrah dan Krueng Nalan.

Sepanjang malam Husaini Hasan dan kawan-kawannya berjalanan kaki. Barulah ketika hari mulai terang mereka tiba di tempat tujuan, yakni Asrama Wilayah Bate Iliek yang dipimpin Tengku Idris Ahmad. Tempat di tengah rimba ini jadi kamp persembunyian yang aman. Tak pernah terjadi serangan oleh pihak tentara.

Yang selalu jadi ancaman justru ulah seorang pemberontak sendiri, yakni Abdullah Pasi. Kadang-kadang Abdullah Pasi memecah keheningan hutan dengan mengumandangkan azan. Sebagai penderita gangguan jiwa, ia tak paham suaranya bisa didengar oleh tentara yang kebetulan sedang berpatroli di hutan.

Para pemimpin pemberontak di Asrama Wilayah Bate Iliek sudah berusaha menangani. Larangan azan dibuat demi keselamatan semua orang. Tetapi tingkah laku Abdullah Pasi memang tak bisa sepenuhnya dikendalikan.

“Masalah terbesar sekarang bukan pada serangan musuh, tetapi pada penyakit jiwa Abdullah Pasi. Misalnya, dia azan delapan kali sehari. Sekali waktu terbangun pukul 3 malam dan langsung mengumandangkan azan. Kondisi seperti ini dilarang di rimba. Semua harus tenang dan tidak berisik jika tidak mau posisinya diketahui oleh tentara,” tulis Dr. Husaini M. Hasan dalam Dari Rimba Aceh ke Stockholm (2015).

Pada hari-hari berikutnya, kesehatan jiwa Abdullah Pasi semakin merosot. Ia mulai sering bicara sendiri.

“Kami tak memiliki obat untuk penyakit jiwanya,” kenang Dr. Husaini M. Hasan.

Obat penenang untuk Abdullah Pasi kemudian coba didatangkan dari Medan dengan mengontak seorang kurir Aceh Merdeka di sana. Berhari-hari ditunggu, obat pesanan itu tak pernah sampai.

Untuk mengatarkan Abdullah Pasi pulang ke rumahnya di Pasi Lhok, Kabupaten Pidie, tak seorang pun dari kalangan pemberontak berani melakukannya. Semua orang takut dia bakal berteriak saat bertemu tentara di tengah jalan. Lebih-lebih Abdullah Pasi sering berpidato sendiri layaknya dia adalah seorang Hasan Tiro.