Tengku Mut Dibunuh Tentara: Matanya Dicungkil, Tubuhnya Diremukkan

Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa DI/TII Aceh terjadi hampir di seluruh wilayah Aceh. Korbannya laki-laki maupun perempuan. Dari orang dewasa hingga anak-anak.
"Tembak di Tempat"

Pada 21 Mei 1955, sekelompok tentara menggelar operasi pengejaran terhadap para laskar Darul Islam Aceh di sekitar Desa Geuleuding, Kecamatan Padang Tiji, Kabupaten Pidie.

Sebagaimana tindakan khas tentara, kalau musuh tak berhasil dijumpai di desa-desa, maka harus ada warga yang ditangkap. Inilah yang dilakukan tentara dalam patroli di Geuleuding. Mereka menangkap empat warga desa, yakni Usuh Hadji Him, Amat Karim, Nja’ Him Djurong Puoek, dan Tengku Mut Krep.

Tengku Mut Krep satu-satunya orang yang dibunuh dengan disiksa terlebih dahulu, sedangkan tiga temannya langsung ditembak mati setelah ditangkap.

Tengku Mut Krep ditusuk bertubi-tubi dan beramai-ramai oleh tentara yang menangkapnya. Alat yang dipakai untuk menusuk adalah pisau yang dipasang di ujung senapan (bayonet). Ia tewas dalam keadaan di sekujur tubuhnya terdapat luka tusukan.

Tentara kemudian memperlakukan mayat Tengku Mut Krep dengan sangat buruk. Kedua mata Tengku Mut Krep dicungkil sebelum badannya dihancurkan dengan timpaan sebuah batu besar.

“Matanja lalu ditjungkil keluar dan paling achir majat jang telah remuk itu dibawa kesebuah batu besar dan kemudian batu itu digulingkan pula kedjasad jang tidak berdjiwa itu lagi,” tulis A.H. Gelanggang.

Kejadian ini tercatat sebagai satu dari banyak kasus pelanggaran HAM semasa pemberontakan DI/TII Aceh. Cerita-cerita kekejaman tentara pada masa itu dihimpun A.H. Gelanggang dalam Rahasia Pemberontakan Aceh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin. Buku putih DI/TII Aceh ini diterbitkan tahun 1956.