Brimob dalam Pembantaian Massal di Aceh Timur Tahun 1956

  • Whatsapp
Tahun 1956, pasukan Mobrig (sekarang Brimob) melakukan pembantaian massal di Aceh Timur. Sebanyak 11 pedagang ditembak mati atas tuduhan terlibat gerakan DI/TII Daud Beureueh.
"Pengejaran" Foto: Adli Dzil Ikram.

Leman sedang asyik bersepeda di jalan lintas Medan-Banda Aceh selepas salat Zuhur, tepatnya di kawasan pasar Lhoknibong, Aceh Utara.

Kesenangannya tak lama kemudian rusak. Selagi kedua kakinya mendorong pedal, tiba-tiba sejumlah peluru terbang ke arahnya. Peluru-peluru itu keluar dari mulut senapan pasukan Mobil Brigadir (Mobrig, sekarang Brimob) yang bermarkas di Kuta Binjei, Aceh Timur.

Bacaan Lainnya

Dari beberapa yang sengaja ditembakkan ke arahnya, satu peluru mengoyak paha Leman. Dia dan sepedanya terbanting ke badan jalan. Darah menyembur. Tetapi para penembak segera pergi, tak memberikan pertolongan kepada anak 12 tahun tersebut.

Leman sebenarnya hanyalah korban sampingan pada hari itu. Petaka yang sebetulnya terjadi sekitar 400 meter dari tempat ia tertembak, yakni di Desa Paya Deumam II.

Kejadian bermula ketika pada jam 10 pagi sekelompok kecil pasukan Mobrig bertolak dari Panton Labu ke markas mereka di Kompi 5141 Arakundo. Setibanya di kawasan Lhoknibong, mereka tak menyangka bakal berpas-pasan dengan gerombolan laskar Darul Islam Aceh. Penyerbuan pun pecah.

Diserang habis-habisan oleh musuh yang jumlahnya lebih besar, anggota Mobrig yang memegang kemudi lekas meninggikan kecepatan untuk keluar dari bahaya serius tersebut. Tembakan balasan tak sempat dikeluarkan. Serangan mematikan yang mendadak itu membuat para prajurit Mobrig hanya bisa berlindung. Tak ada yang tewas dalam kejadian ini, tetapi dua anggota tertembak.

Rupanya, Komandan Kompi 5141 Arakundo sudah merasa cukup terhina dengan penyerangan tersebut, biarpun tiada anggotanya yang terbunuh,. Dengan mobil yang mesinnya masih panas itu, ia lantas pergi ke markas Mobrig Kuta Binjei untuk mencari bantuan. Di tempat inilah operasi pengejaran (balas dendam) disusun. Puluhan pasukan dikumpulkan, diberi pengarahan, lalu diangkut dengan tiga mobil ke lokasi penyerangan.

Konferensi pers

Setelah operasi tersebut selesai, pihak Mobrig pun menggelar konferensi pers. Yang berbicara adalah Koordinator Mobrig Sumatra Utara Komisaris II Amir Sunarjo.

Sunarjo menjelaskan kepada awak media bahwa pada 22 Maret 1956, sekitar jam 11 siang, sebanyak 100 laskar Darul Islam Aceh menyerang kendaraan pasukan Mobrig di kawasan Lhoknibong. Mobrig melepaskan tembakan balasan. Terjadi pertempuran sengit. Sebanyak 8 orang pemberontak berhasil ditembak mati. Sementara di pihak Mobrig yang menjadi korban cuma 2 orang, itu pun hanya luka ringan, bukan tewas.

Keterangan Sunarjo yang teramat pendek itu lantas diberitakan mentah-mentah oleh para wartawan. Mereka tidak mencari informasi yang lebih lengkap di lapangan, apalagi meng-crosscheck kebenaran keterangan tersebut. Salah satu yang memberitakan seperti itu adalah surat kabar Tjerdas dalam edisi 27 Maret.

Dua bulan kemudian, terbitlah sebuah lektur yang menyatakan Sunarjo telah berbohong. Bacaan itu diberi judul Rahasia Pemberontakan Atjeh dan Kegagalan Politik Mr. S.M. Amin (1956). Penulisnya memakai nama A.H. Gelanggang, yang mana ini merupakan nama samaran dari T.A. Hasan, bekas Bupati Aceh Timur yang membelot ke gerakan DI/TII (Darul Islam) Aceh.

Melalui publikasi tersebut, kelompok Darul Islam Aceh menuding pihak Mobrig sengaja menyiarkan kabar palsu guna menutupi kejahatan serius yang telah mereka lakukan di sebuah desa. Pertama, yang ditembak mati pasukan Mobrig bukan delapan orang. Kedua, orang-orang yang dibunuh tersebut bukanlah pemberontak (pelaku penyerangan di Lhoknibong) yang dicari.

Gelanggang menjelaskan, para pemberontak sebenarnya sudah berpindah tempat ketika pasukan Mobrig di lokasi penyerbuan. Kecewa tak menemukan siapa-siapa, pasukan lantas menembaki area semak-semak selama satu jam. Para pemberontak dikira bersembunyi di situ.

Karena kemudian diketahui tak ada siapa pun di semak-semak tersebut, pasukan Mobrig semakin naik darah. Area pengejaran pun diperluas. Mereka berjalan kaki ke arah barat, sampai akhirnya tiba di Desa Paya Deumam II.

Pasar desa ini segera dikepung. Semua orang yang dijumpai dipaksa untuk memberitahu kemana larinya para pemberontak. Namun alih-alih mengetahui keberadaan pihak yang diburu, warga justru tak tahu-menahu ihwal terjadinya penyerangan terhadap pasukan Mobrig di Lhoknibong. Kepala desa menerangkan, tak seorang di antara mereka yang mendengar suara letusan senapan pada pagi tadi. Hal ini dikarenakan lokasi penyerangan berjarak lumayan jauh dari desa, tak kurang dari 400 meter.

Pasukan Mobrig tak memercayai perkataan tersebut. Mereka lantas menerapkan tindakan yang khas militer atas setiap jawaban “tidak tahu”. Siapa pun yang menjawab seperti itu akan dicap sebagai anggota kelompok pemberontak. Dengan demikian, hukuman pun perlu dijatuhkan.

Sebanyak 11 pedagang di pasar desa ditangkap. Komandan operasi pengejaran juga memerintahkan pembakaran terhadap 25 rumah dan 2 kedai milik warga.

Begitu api sudah membesar, pihak Mobrig melanjutkan pengejaran ke Desa Paya Demam III. Para pedagang yang ditahan tersebut turut digelandang. Sayangnya pengejaran di desa ini pun tidak menghasilkan apa-apa. Musuh yang dicari gagal ditemukan. Pencarian pun diakhiri. Tetapi sebelum meninggalkan desa, biar misi tak berakhir sia-sia, pihak Mobrig merampas semua uang milik tahanan mereka.

Setelah isi kantongnya ludes dikuras, orang-orang yang tak berani melawan itu dibariskan dalam keadaan tangan terikat. Lalu tanpa ragu-ragu pasukan Mobrig membantai mereka dengan tembakan beruntun, memakai stengun (senjata semi-otomatis). Salah satu yang turut ditembak mati adalah seorang remaja 15 tahun bernama Gani Ahmad.

Berikut nama para korban pembantaian massal di Aceh Timur pada 22 Maret 1956 tersebut:

  1. Ali Basjah
  2. Beurahim Adjuran
  3. Buntho’ Piah
  4. Gani Ahmad
  5. Gapi Walad
  6. Keuchik Musa (Kepala Desa Paya Deumam II)
  7. Maun
  8. Peutua Ubit
  9. Polem Amin
  10. Raman Padang
  11. Wak Seuman

Pasukan Mobrig pun segera angkat kaki dari lokasi setelah memastikan sebelas orang itu tak lagi bernyawa.

Namun sambil berjalan kaki menuju mobilnya yang diparkir di sekitar pasar Lhoknibong, prajurit Mobrig menembaki siapa saja yang melintas di jalan. Saat inilah Leman si pesepeda terkena tembakan di paha. Termasuk dua korban lainnya, Abdussalam dan Amat.

Setelah “puas” menembak serampangan, para eksekutor langsung tancap gas kembali ke markasnya. Tetapi mereka berhenti sebentar di Simpang Ulim untuk bertemu otoritas kewedanaan di sana.

Kepada Asisten Wedana, komandan Mobrig menyampaikan sebuah peringatan serius: “1 Mobrig tewas, 250 orang kami bunuh. Kami tidak akan tangkap-tangkap lagi. Kami akan bunuh terus”.

Pos terkait