Jepang Meninggalkan Aceh secara Diam-Diam

  • Whatsapp
Penarikan Pasukan Jepang dari Aceh secara Diam-Diam
"Berangkat Tengah Malam"

Begitu negaranya mengumumkan kapitulasi (pengakuan kalah perang) pascapengeboman Hiroshima dan Nagasaki, tentara-tentara Jepang di wilayah pendudukan mulai menarik diri ke tempat yang aman.

Di Aceh, pemimpin-pemimpin militer Jepang diberitahu agar mengangkut seluruh pasukannya ke Pelabuhan Belawan, untuk nantinya direpatriasi.

Bacaan Lainnya

Rencana awalnya, penarikan pasukan akan dilakukan melalui jalur darat. Namun berdasarkan kejadian yang sudah-sudah, rencana ini diurungkan. Jalur darat sama sekali tak aman, baik dengan pengangkutan truk maupun kereta api.

Sudah ada beberapa kejadian di mana pasukan-pasukan Jepang yang berpindah dari satu daerah ke daerah lain dicegat. Pelakunya adalah gerombolan-gerombolan pejuang Aceh yang ingin menguasai persenjataan tentara Jepang.

Maka diubahlah strategi: pasukan Jepang akan dikeluarkan dari Aceh secara diam-diam lewat jalur laut. Operasi rahasia ini mesti dilakukan saat tengah malam. Dengan senyap, satu per satu tentara Jepang naik ke kapal-kapal yang telah dipersiapkan.

Seorang tentara Jepang yang sempat bertugas di Aceh Besar, Takao Fusayama, menceritakan proses ini dalam memoarnya yang berjudul Cinta dan Benci dalam Perang Pembebasan (diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Balai Pustaka, 1995).

Berdasarkan pengakuan Fusayama, penarikan pasukan melalui laut sebenarnya tak dilakukan secara serentak di seluruh Aceh. Yang mendapat giliran pertama adalah pasukan di Kutaraja. Dia menjelaskan:

“Pada 19 Desember … satu batalyon dari Resimen Infanteri Pengawal Kekaisaran yang tinggal di daerah Kutaraja lebih dulu berangkat dengan kapal laut di bawah perlindungan sebuah kapal perusak Inggris menuju ke Malaya. Tanggal 23 Desember, pasukan Jepang sebanyak satu kompi meninggalkan Sigli dengan sejumlah perahu milik Pasukan Transportasi Laut Jepang … Satu batalyon dari Resimen Infranteri ke-3 Pengawal Kekaisaran, yang tinggal di Lhokseumawe dan Bireuen, menanti perahu-perahu Pasukan Transportasi Laut untuk menjemput tanggal 24 Desember malam. Hanya satu batalyon dari Resimen ke-3 yang tinggal di Langsa karena dekat letaknya dengan Sumatra Timur menarik diri dengan kereta api” (Hlm. 160-161).

Markas tentara Jepang di Medan terus memantau proses tersebut. Pemimpin pasukan di setiap daerah diperintahkan menyampaikan laporan perkembangan operasi secara berkala. Salah satu yang bertugas di markas malam itu adalah Fusayama. Ia keluar dari Aceh sebelum penarikan pasukan secara besar-besaran dilakukan.

Sebuah laporan radio masuk saat dinihari. Laporan itu menyebutkan, semua pasukan Jepang di Bireuen sudah naik ke perahu dengan selamat. Menyusul kemudian laporan dari daerah-daerah lain. Namun setelah lama ditunggu, laporan situasi pasukan Lhokseumawe belum juga masuk. Kontak lewat radio tak tersambung.

Opsir Staf Imamura meminta Fusayama mencari informasi mengenai situasi di Lhokseumawe. Namun ia menolak karena yakin tak akan terjadi masalah apa pun.

“Saya sendiri tidak merasa khawatir sama sekali, karena saya percaya akan laporan dari Gubernur Hasan yang menyatakan bahwa beliau sudah mengadakan persetujuan dengan rakyat Aceh di berbagai tempat guna menjamin keamanan nyawa dan harta orang-orang Jepang yang sedang menarik diri itu,” tulis Fusayama.

Rupanya di balik sikap waswasnya, ada sesuatu yang disembunyikan Imamura dari Fusayama. Imamura pantas gelisah pada keadaan pasukan di Lhokseumawe karena ada sebuah operasi rahasia lainnya yang cuma diketahui segelintir pejabat militer Jepang. Fusayama tak mengetahui ihwal operasi ini sebelum diberitahu Imamura.

Antara Langsa dan Lhokseumawe

Imamura menjelaskan, Jepang berencana menyerang Kota Langsa secara besar-besaran setelah penarikan pasukan di seluruh Aceh selesai. Adalah Resimen Infanteri ke-5 yang akan melakukan penyerangan tersebut, di bawah komando Mayor Jenderal Sawamura.

Penyerangan ini dilakukan karena pasukan Jepang di Langsa yang ditarik lewat jalur darat diserang oleh para pejuang lokal. Bahkan bukan cuma senjata, seragam dan barang-barang pribadi tentara Jepang pun dirampas. Akibatnya sejumlah tentara yang selamat berada dalam keadaan setengah telanjang. Padahal sebelumnya sudah ada kesepakatan dengan rakyat Aceh agar proses penarikan pasukan tak diganggu.

Jepang, yang tunduk di bawah perintah pihak Sekutu pascakapitulasi, diperintahkan untuk mengambil kembali persenjataan mereka yang telah dirampas di Langsa, bahkan bila harus dengan cara kasar.

Serangan ke Langsa ini tentu akan membahayakan pasukan di Lhokseumawe kalau sekiranya mereka belum berangkat. Orang-orang Lhokseumawe yang menerima kabar bahwa Langsa telah diserang diyakini bakal menyerbu pasukan Jepang di sekitar mereka.

Yang lebih menakutkan, pasukan di Lhokseumawe waktu itu sudah tidak punya senjata sama sekali. Dengan satu gelombang serangan yang besar saja, mereka bisa dibantai dengan cepat oleh massa yang marah. Fusayama mengatakan, “Pasukan di Lhokseumawe berada di tepi bahaya serius”.

Oleh karena situasi genting inilah Imamura mendesak Fusayama untuk mencari informasi apakah pasukan dari Lhokseumawe sudah diberangkatkan atau belum.

Fusayama adalah tentara Jepang yang bersahabat dengan banyak orang Aceh. Dia menentang rencana penyerangan ke Langsa karena pasti akan menewaskan banyak penduduk. Namun dia pun tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan rencana tersebut. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan dengan berat hati adalah  menelepon ke Lhokseumawe.

Berkat bantuan operator telepon di Medan, akhirnya kabar penarikan pasukan di Lhokseumawe bisa diperoleh. Laporan tersebut menyatakan: “Pasukan sudah seluruhnya berangkat dengan perahu-perahu dan tidak seorang tentara pun tertinggal di tangsi”.

Imamura lega mendengar kabar ini, lalu segera memberitahu bahwa penyerbuan ke Langsa sudah aman untuk dilakukan.

Setelah menerima laporan tersebut, Sawamura pun segera menggiring ribuan pasukannya ke Langsa pada 25 Desember 1945.

Pos terkait