Pengeboman Candi Borobudur Tahun 1985

Bom di Candi Borobudur tahun 1985 merupakan tragedi masa Presiden Soeharto. Pengeboman Borobudur dilakukan oleh komplotan teroris di Malang.
"Restorasi Candi Borobudur Pascapengeboman" (Sumber: Djoko Poernomo, Kompas)

Suyono dan Triyanto, dua satpam Candi Borobudur, meninggalkan pos mereka untuk berpatroli pada jam 1.20 malam. Baru sepuluh menit mengecek keadaan sekitar candi dalam gelap malam, tiba-tiba sebuah dentuman keras membuat nyali keduanya jatuh.

Semenit kemudian, ledakan kedua menambah ketegangan. Suyono dan Triyanto lari menyelamatkan diri. Malam itu, sembilan bom menghancurkan sisi timur Candi Borobudur. Yang terakhir meledak sekitar jam 3.40 dini hari (“Ledakan Malam di Borobudur”, Tempo, 26 Januari 1985).

Begitu matahari menerangi pagi, pemeriksaan pun dilakukan oleh aparat. Semua orang terperanjat saat mengetahui ada bom yang masih aktif atau belum meledak. Untunglah petugas berhasil menjinakkan bom-bom tersebut. Dari hasil pengecekan, ledakan telah merusak 2 patung Budha dan 9 stupa. Batu-batu candi tercampak ke mana-mana. Pelaku pengeboman tidak diketahui hingga Januari dan Februari berlalu.

Insiden Bus di Jawa Timur

Tanggal 16 Maret, bom yang dibawa penumpang bus Pemudi Express meledak di Desa Sumber Kencono, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Menurut sebuah keterangan, bom meledak kemungkinan karena tidak tahan dengan panas mesin bus. Tujuh orang tewas akibat kejadian ini.

Di sekitar lokasi ledakan, warga melihat seorang laki-laki gelisah dan gerak-geriknya mencurigakan. Dia berusaha mencari tumpangan agar secepatnya bisa meninggalkan lokasi. Namun warga segera menangkap lalu menyerahkannya kepada polisi.

Laki-laki itu bernama Abdulkadir al-Habsyi. Kepada polisi, al-Habsyi mengaku bom yang meledak di dalam bus merupakan bawaannya. Ketika ledakan terjadi, kebetulan dia tengah di luar bus sehingga selamat. Sementara tiga temannya tewas. Al-Habsyi dan kawan-kawannya berencana meledakkan bom tersebut di hotel-hotel dan tempat-tempat prostitusi di Bali.

Bom yang mereka bawa merupakan TNT tipe PE 808/Dahana buatan Cina. Bahan peledak inilah yang juga ditemukan dalam peristiwa ledakan di Candi Borobudur tiga bulan sebelumnya. Masing-masing bom terdiri dari dua batang dinamit yang dililit selotip. Untuk peledakannya, dipasang sebuah detonator.

Saat diinterogasi aparat, al-Habsyi menyebut nama Muhammad Jawad sebagai penggerak aksi, termasuk pengeboman-pengeboman sebelumnya di Gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) dan Gereja Sasana Budaya Katolik, Malang, pada malam Natal 1984. Pelaku lainnya adalah Achmad Muladawila yang ditangkap tanggal 19 April. Abang kandung al-Habsyi, Husein Ali al-Habsyi, turut ditangkap.

Adik-abang ini sama-sama aktif di sebuah majelis taklim. Salah satu guru agama yang mengisi pengajian ialah Muhammad Jawad. Jawadlah yang memprovokasi pemuda-pemuda di majelis taklim untuk melawan kezaliman Soeharto dengan cara kekerasan. Doktrinnya: Orde Baru harus dipukul karena telah membunuh ratusan umat Islam dalam Peristiwa Tanjung Priok (12 September 1984) serta memaksakan penerapan asas tunggal Pancasila untuk menandingi Islamisme.

Kabar Burung Muhammad Jawad

Tanggal 15 Januari 1986, Pengadilan Negeri Malang mulai mengadili ketiga terdakwa. Seperti dilansir majalah Mimbar Kekaryaan ABRI edisi 182-September 1986, mereka diperiksa di tiga tempat oleh majelis hakim yang berbeda.

Abdulkadir al-Habsyi diperiksa oleh majelis hakim yang diketuai AJ Rahmad. Penyidangan Husein Ali al-Habsyi dipimpin hakim H. Prayitno. Sementara yang mengadili Achmad Muladawila ialah hakim perempuan Ny. Sumiati SH.

Ditanya mengapa para pelaku baru disidang tahun 1986 padahal sudah ditangkap sejak April-Mei 1985, Danrem 083 dan Laksusda Malang Kolonel Mochamad Basofi Sudirman mengatakan: “Karena petugas masih berusaha menyelidiki jaringan organisasi ini sampai ke akar-akarnya” (“Itu Ledakan dan Bom Bikinan Malang”, Tempo, 25 Januari 1986).

Al-Habsyi dan Achmad divonis 20 tahun penjara. Keduanya bebas saat hukumannya baru setengah masa. Sementara Husein dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Untungnya pada 23 Maret 1999, ia bebas berkat ampunan (grasi) dari Presiden Habibie.

Sementara Mohammad Jawad alias Ibrahim alias Kresna alias Abu Mahdi, dalang pengeboman, sampai hari ini keberadaannya masih menjadi teka-teki. Ada tatah-tatah menyebutkan dia berhasil melarikan diri ke Iran begitu kejahatannya terungkap.