PKI dalam Musibah Kelaparan di Aceh Utara

  • Whatsapp
Pembantaian orang-orang (tertuduh) PKI di Aceh Utara antara lain dipicu oleh "kedekatan" orang-orang desa dengan partai tersebut. Mayat-mayat korban pembantaian massal sekitar 1965-1966 dikubur di dalam pasir pantai.
"Rencong, Palu, Arit"

Melalui “Radio Toshiba” tersiarlah kabar bahwa orang-orang PKI di Jawa telah membunuh banyak muslimin dan muslimat. Penyiar radio memberitahu pula kabar mengenai penculikan dan pembantaian enam jenderal, yang mana Letkol Untung disebutkan sebagai salah seorang yang memprakarsai operasi tersebut.

Berita ini segera disebarkan kepada orang-orang yang tidak mendengarnya langsung dari radio. Dalam waktu singkat informasinya sampai ke telinga ribuan warga Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara.

Bacaan Lainnya

Nek Rih, seorang pemuda 17 tahun, tiba-tiba melihat ratusan laki-laki di desanya berkumpul secara spontan dengan membawa parang. Hari itu mereka akan bergotong royong membersihkan orang-orang PKI di desa dan kecamatannya.

“Sudah heboh kejadian si Untung di sana, kami segera main parang di sini,” kata Nek Rih (nama samaran).

Penulis mewawancarai Nek Rih pada 3-4 Juni 2020 lalu, di sebuah warung bakso. Suara serak kakek berusia 72 tahun ini masih nyaring. Karena itulah rekaman suaranya tetap terdengar jelas biarpun pemilik warung terus memutar lagu-lagu India selama tanya jawab. Sesekali guna menegaskan sesuatu, Nek Rih meninju permukaan meja.

Nek Rih tak ingat berita tersebut disiarkan tanggal berapa. Demikian pula dengan tanggal berkumpulnya massa tersebut. Dia cuma ingat pembantaian terhadap orang-orang (tertuduh) PKI di Aceh Utara terjadi antara dua peristiwa gempa bumi.

“1964 gempar besar. 1965 meletus PKI,” kenang Nek Rih. Dan setelah pembantaian massal pada 1965-1966, tahun 1967 gempa bumi besar kembali mengguncang Aceh.

Bersama orang-orang dari sejumlah desa, Nek Rih juga turun ke arena pembantaian dengan membawa parang. Tetapi dia tidak menetak seorang pun. Cara pikir massa waktu itu amat sederhana: siapa pun yang diyakini punya hubungan dengan PKI berarti musuh Islam, dan dengan demikian darah mereka halal untuk ditumpahkan.

Nek Rih masih ingat persis beberapa peristiwa yang terjadi dalam huru-hara tersebut. Seorang perempuan Tionghoa yang sedang hamil ditebas di perutnya sampai mati. Ketika menceritakan ini, Nek Rih memperagakan perut buncit untuk menunjukkan perempuan malang itu sedang hamil tua, sekitar 8 atau 9 bulan.

Walaupun massa bergerak dengan pikiran yang sama, yakni “bunuh PKI”, kenyataannya tidak semua orang bertindak seragam. Sementara ada yang membunuh perempuan Tionghoa hamil, sekelompok orang desa lain justru menyelamatkan anak-anak Tionghoa dari kebrutalan massa.

“Anak-anak China yang masih kecil diselamatkan. Ayah mereka tidak ada lagi, sudah dibantai. Mereka kami ambil, kami selamatkan. Kemudian masuk Islam dan sekarang sudah dewasa. Sampai sekarang mereka sangat baik hati dan peduli sama orang kampung,” kata Nek Rih.

Bukan cuma “orang China”, orang-orang Aceh yang dipercaya punya hubungan dengan PKI ikut disasar. Mereka dibunuh dengan cara lehernya digorok. Tindakan ini memang sesuai dengan rencana yang diteriakkan massa sebelum memulai aksi, yakni “koh taku PKI” (penggal leher orang-orang PKI di Aceh).

Algojo yang cukup terkenal dan ditakuti di Kecamatan Muara Batu ada tiga orang. Ketiganya bernama “Raman”. Trio Raman ini terdiri dari Raman Pari, Raman Saleh, dan Raman Peudeung.

“(Tiga orang) itulah yang membunuh PKI,” ujar Nek Rih. Mengenai algojo, ada beberapa nama tersohor lainnya yang telah masuk dalam historiografi penumpasan PKI di Aceh.

Mayat-mayat hasil pembantaian massal di Kecamatan Muara Batu ditanam di sekitar pantai Desa Meunasah Aron dan Desa Bungkah. Di dalam pasir. Orang-orang yang ditangkap di desa lain dibawa dengan mobil ke pantai tersebut untuk dipenggal. Termasuk orang-orang komunis dari Kecamatan Samalanga. Yang bertugas mengangkut mereka ke lokasi eksekusi salah satunya bernama Cek Don.

Selain membunuh orang, untuk memutus pengaruh komunisme di kecamatannya, massa juga memusnahkan buku. Pembakaran buku dalam aksi mengganyang PKI di Aceh merupakan kasus yang amat langka. Berbeda dengan di Jawa, yang mana hal seperti ini memang banyak terjadi.

Di Kecamatan Muara Batu, pembakaran buku dimulai dari penggerebekan sebuah rumah di Desa Reuleut. Buku-buku yang ditemukan lekas dilempar ke luar, ditumpuk di satu tempat, dan dibakar.

“Kalau buku-buku di situ tidak dibakar, orang Reuleut bisa jadi PKI semuanya,” ujar Nek Rih sambil meninju meja.

Sayangnya Nek Rih tak ingat siapa nama pemilik rumah tersebut. Dia cuma bilang: “Pokoknya rumah orang di (Reuleut) situ. Sudah lupa saya. Tapi kalau mau mencari rumahnya, di sana masih ada keluarganya”.

PKI di depan mulut orang lapar

Pembantaian di Kecamatan Muara Batu bukan cuma dipicu informasi mengenai kebiadaban para komunis di Jawa yang membunuh orang-orang Mukmin. Pembantaian juga disebabkan oleh “kedekatan” orang-orang setempat dengan PKI.

Kecamatan Muara Batu saat tersiar kabar radio tersebut sebenarnya sedang dilanda krisis pangan. “Waktu itu sedang musim lapar. Makanan terbatas. Sawah tidak ‘hidup’. Orang desa cuma makan buah ubi, jagung, dan sagu. Cuma ada tiga macam makanan. Beras tidak ada,” ungkap Nek Rih.

Sewaktu petani-petani miskin di Muara Batu meratapi keadaan, datanglah orang-orang PKI membawa bantuan, termasuk bahan makanan. Dan begitu siaran radio selesai, para penerima bantuan ini mulai dicari untuk disembelih.

___________

Catatan: “Radio Toshiba” yang disebutkan Nek Rih dalam wawancara tidak bisa dipastikan sebagai perangkat radio bikinan Toshiba (perusahaan di Jepang yang memproduksi alat-alat elektronik). Boleh jadi pula yang dimaksud adalah “Radio Toshiba-71”. Menurut sejarawan Rusdi Sufi, Toshiba-71 adalah 1 dari 20 “radio siaran nonpemerintah yang beroperasi di Daerah Istimewa Aceh”. Radio ini mengudara di frekuensi 1165/KHS dan berkantor di Banda Aceh (1997: 38). Apabila pembaca punya informasi yang lebih memadai mengenai Toshiba-71, Redaksi KiniJa.ID dengan senang hati menerima ulasannya.

Pos terkait