Bupati Aceh Timur: Sukarno tak Pantas Diteladani Anak Muda

  • Whatsapp
Menurut rakyat Aceh, Soekarno punya banyak kesalahan terhadap Aceh. Saat ia wafat, kesalahan ini diungkit kembali sambil tetap mengenang jasa-jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Karikatur berjudul “Soekarno” ini dipublikasikan di surat kabar “De Telegraaf” pada 13 Maret 1967. Dibuat oleh seorang fotografer dan kartunis Belanda, Wim van Wieringen (1915-1999). Sekarang karya Wieringen ini disimpan oleh International Institute of Social History dengan nomor arsip: BG C41/847.

Bangun pagi tanggal 7 Juli 1970, sebuah tugas penting sudah menanti Mohamad Nurdin. Ia diminta melaporkan tanggapan warga Aceh Timur atas wafatnya Sukarno beberapa hari sebelumnya, yakni tanggal 21 Juni.

Perintah tersebut dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud pada 6 Juli lewat sebuah radiogram bernomor SUS.1/1/17. Dikirim kepada seluruh kepala daerah di Indonesia.

Sebagai salah satu bupati di Indonesia yang turut menerima perintah tersebut, Nurdin pun mulai pasang telinga. Ia mendengar, bertanya, dan mencatat segala komentar warga mengenai kejadian meninggal dunianya Sukarno. Hasil pemantauannya lantas dituangkan dalam sebuah laporan rahasia bernomor 107/Rahasia (19 Juli 1971).

Dalam laporan ini Bupati Nurdin mengabarkan: “Sedjak tersiarnja berita-berita tentang meninggalnja Dr. Ir. H. Soekarno, pendjualan surat-surat kabar dalam daerah Kabupaten Atjeh Timur sangat larisnja, dimana dapat diambil kesimpulan bahwa segenap lapisan masjarakat di dalam daerah … mendapat perhatian penuh tentang meninggalnja Dr. Ir. H. Soekarno itu”.

Larisnya penjualan koran bukan berarti warga Aceh Timur bersedih atas kepergian presiden pertama mereka. Sebaliknya, setelah membaca berita, orang-orang di kabupaten ini tetap ingin mengenang Sukarno sebagai sosok pendusta yang telah membuat luka berlapis-lapis pada batin dan badan rakyat Aceh.

Sukarno, berdasarkan komentar-komentar yang terdengar, sangat mengecewakan karena pernah menggabungkan Aceh dengan Provinsi Sumatra Utara sehingga syariat Islam tak bisa diterapkan (contohnya, Gubernur Sumut saat itu melegalisasi penjualan minuman keras di Aceh).

Sukarno juga membuat banyak warga Aceh Timur tak bersalah turut disiksa, dibunuh, dan diperkosa selama operasi penumpasan Gerakan DI/TII Daud Beureueh yang digelar atas izinnya.

Sukarno pula yang memfasilitasi PKI sehingga organisasi politik yang dicap anti-Tuhan ini mampu membesar dan menindas umat Islam di banyak tempat.

Laporan yang dibuat Bupati Nurdin mengesankan bahwa dari semua kesalahan itu, hanya satu yang masih cukup membekas dalam pikiran warga: perkara hubungan Sukarno dengan PKI.

Soal dusta otonomi daerah dan DI/TII kurang dibicarakan. Hal ini barangkali karena dua peristiwa itu dalam hal periodenya telah tertinggal cukup jauh di belakang. Sebaliknya, isu PKI dan G30S yang cuma berjarak lima tahun (1965 ke 1970) di belakang masih begitu awet dalam ingatan.

Penghormatan dan kecaman

Sebagai Bupati Aceh Timur, Nurdin sepakat dengan kebanyakan warganya bahwa Sukarno menyandang kemuliaan sebagai pejuang kemerdekaan bangsa dan negara. Untuk menghormati jasanya yang ini, warga Aceh Timur mengibarkan bendera setengah tiang tujuh hari berturut-turut. Hanya saja kesalahan-kesalahan Sukarno tetap hendak dikenang dan diteruskan ceritanya kepada generasi-generasi mendatang.

“Tetapi kepribadian dan sikap Soekarno dalam kehidupan pribadinja sebagai manusia, perlu sekali didjelaskan kepada anak-tjutju kita untuk tidak diteladani dan diikuti,” tulis Nurdin dalam laporannya (Dispursip Aceh, Publik Opini di Daerah Istimewa Aceh tentang Meninggalnya Ir. Soekarno. Nomor arsip: AC06-403/72).

Selain bersikap otoriter dengan Demokrasi Terpimpin-nya, Sukarno juga dinilai tak patut diteladani karena menganut komunisme dan menyokong PKI. Dalam pikiran orang banyak, komunisme berarti antiagama atau anti-Tuhan. Dan biarpun Sukarno mengawinkan ideologi itu dengan religiositas, tetap ia dinilai tengah membahayakan masa depan Islam di Tanah Air.

Malahan sewaktu Demokrasi Terpimpin tengah dimantapkan, muncul seorang penceramah keliling yang di pasar-pasar Aceh yang senantiasa berkata: “Tidak hanya Islam akan terancam dengan gejala ini, tetapi juga agama-agama lain. Termasuk Nasrani!” (Fachry Ali, “Oposisi Gaya Hancou Klaha, Tempo, 19 November 1983).

Sebelum menyudahi laporannya dengan tanda tangan dan stempel resmi kabupaten, Nurdin menulis sebuah komentar pedas terhadap Sukarno: “Masjarakat sangat membentji atas sikap perbuatan Dr. Ir. H. Soekarno jang pernah bertindak sebagai seorang diktator dan jang telah membawa Negara Republik Indonesia ke djurang kebangkrutan dan hidup suburnja kaum Anti Tuhan”.

Arsip laporan Bupati Aceh Timur Mohamad Nurdin mengenai situasi di Kabupaten Aceh Timur saat tersiar kabar bahwa Sukarno telah wafat.
Arsip laporan Bupati Aceh Timur Mohamad Nurdin mengenai situasi di Kabupaten Aceh Timur saat tersiar kabar bahwa Sukarno telah wafat.

Pos terkait