Sukarno Dimarahi Penghulu Gara-Gara Tampil “Good Looking” saat Hendak Menikah

Pernikahan pertama Sukarno tahun 1921 diwarnai adu mulut dengan penghulu. Sukarno dilarang pakai dasi dalam pernikahan.
"Dasi"

Keluarga Haji Oemar Said Tjokroaminoto bersiap menyambut kedatangan Sukarno di rumah mereka. Sebagaimana rencana, hari itu akan berlangsung pernikahan antara Sukarno dengan Siti Oetari, gadis 16 tahun anak HOS Tjokroaminoto. Penghulu dan imam masjid sudah pula tiba di tempat.

Sebentar kemudian, si jejaka tiba di rumah Tjokroaminoto. Sukarno datang dalam balutan busana yang perlente: pakai jas, ada dasi, serta rambut bergaya rapi. Penampilan tidak biasa untuk ukuran orang yang hendak menikah ini mengejutkan para hadirin.

Penghulu dan imam masjid memprotes. Yang jadi masalah adalah dasi yang dipakai Sukarno. Penghulu enggan memulai ijab kabul kalau Sukarno masih mengenakan dasi. Melepaskan dasi diwajibkan atas Sukarno. Tetapi Sukarno memilih melawan perintah tersebut.

“Penghulu secara serampangan menolak untuk menikahkan kami karena aku memakai dasi,” kata Sukarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (sebuah autobiografi yang ditulis bersama Cindy Adams). Sikap keras kepala Sukarno akhirnya menimbulkan perdebatan serius antara dirinya dengan penghulu.

“Anak muda, dasi adalah pakaian orang yang beragama Kristen. Dan tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam,” tegur penghulu.

“Tuan Kadi, saya menyadari, bahwa dulunya mempelai hanya memakai pakaian Bumiputera, yaitu sarung. Tapi ini adalah cara lama. Aturannya sekarang sudah diperbarui,” balas Sukarno.

“Ya, akan tetapi pembaruan itu hanya untuk memakai pantolan (celana panjang) dan jas terbuka”.

“Adalah kegemaran saya untuk berpakaian rapi dan memakai dasi. Dalam hal ini biarpun Nabi sekalipun, tak kan sanggup menyuruhku untuk menanggalkan dasi”.

Penghulu dan imam naik pitam mendengar perkataan tersebut, tetapi Sukarno tak goyang dengan amarah keduanya. “Persetan, tuan-tuan semua. Saya pemberontak dan saya akan selalu memberontak, saya tidak mau didikte orang di hari perkawinan saya,” Sukarno menegaskan.

Setelah adu lidah yang sengit, ijab kabul akhirnya tetap dilakukan. Terjadilah pernikahan Sukarno yang pertama kali dalam hidupnya. Sukarno menjadi menantu HOS Tjokroaminoto.

Hubungan suami-istri Sukarno dengan Siti Oetari cuma bertahan dua tahun. Keduanya berpisah pada 1923. Selama dua tahun bersama, Sukarno mengaku tak pernah mau menyentuh istrinya yang masih belasan tahun itu. Bagi Sukarno, meniduri Siti Oetari berarti menjadi “seorang pembunuh anak gadis remaja”.