Sukarno: Waktu Muda, Aku tak Pernah Sembahyang Lima Waktu

  • Whatsapp
Saat berpidato di depan rakyat Aceh tahun 1948, Sukarno mengaku tidak melaksanakan sembahyang lima waktu ketika masih muda. Sukarno jauh dari Islam. Tetapi pada suatu malam suatu hidayah datang padanya.
"Presiden Sukarno". Gambar ini dimuat dalam buku "Perkundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh". Disusun oleh sebuah tim redaksi yang dipimpin Ali Hasjmy. Buku tersebut kemudian diterbitkan oleh Penerbit Semangat Merdeka pada Oktober 1948.

Puluhan ribu rakyat Aceh akhirnya bisa melihat langsung sosok Presiden Sukarno pada 15 Juni 1948. Hari itu untuk pertama kalinya pujaan mereka tiba di Aceh. Wajah Sukarno kelihatan lesu ketika turun dari pesawat. Mungkin mabuk udara.

Setelah beristirahat beberapa jam, pada malam harinya, bertempat di Gedung Atjeh Bioskoop Kutaraja, Sukarno menyampaikan pidato politik di depan 800 orang yang diundang secara resmi.

Bacaan Lainnya

Para hadirin menyimak dengan sungguh-sungguh pidato tersebut. Demikian halnya puluhan ribu rakyat yang berdiri di luar gedung, di bawah siraman hujan deras. Mereka dengan penuh perhatian mendengar suara Sukarno yang dinyaringkan lewat pengeras suara.

“Saya mengucap syukur kepada Allah subhanahu wa taala, bahwa saya pada ini hari telah sampai di Kutaraja dan ini malam saya berhadapan muka dengan saudara-saudara, pemimpin-pemimpin rakyat daerah Aceh. Baik pemimpin politik, maupun pemimpin sosial, maupun pemimpin agama,” sapa Sukarno yang tampil agak santai, tak berapi-api.

Dalam pidatonya, Sukarno banyak berbicara mengenai revolutie nationaal, tanggung jawab melawan imperialisme, hingga kewajiban merawat persaudaraan bangsa. Tetapi Sukarno juga pintar menempatkan diri. Berpidato di muka ribuan manusia beragama Islam, tentu Sukarno paham betul ia mesti menyinggung perkara Islam. Biar rakyat Aceh semakin menaruh kasih padanya.

Namun Sukarno menceritakan keislaman dirinya dengan cara yang tak biasa. Di depan rakyat Aceh, ia justru mengaku tak pernah melaksanakan salat lima waktu ketika masih muda.

“Aku ini dulu apa. Tatkala aku masih muda, sama sekali aku bukan orang Islam. Tidak sembahyang, dan rukun Islam aku tidak mengerti,” ungkap Sukarno. Tetapi hidupnya yang jauh dari Islam lantas berubah pada suatu malam, ketika ia sedang menatap bintang di angkasa.

Waktu itu tahun 1929. Sukarno ditangkap polisi Belanda karena aktivitas politiknya meresahkan. Ia dijebloskan ke penjara Sukamiskin di Kota Bandung, dikurung di sebuah sel yang terasing. Area penjara tersebut sungguh sepi. Tak ada satu orang pun di sana. “Semua orang-orang hukuman jauh dari selku,” kata Sukarno.

Pada malam hari, Sukarno yang kesepian berusaha menghibur hatinya dengan memandang bintang-bintang di langit. Ternyata aktivitas ini lama-kelamaan membuatnya bisa merasakan keagungan Tuhan. Suatu hidayah baru saja datang dalam hidup Sukarno muda.

“Aku membuka jendela yang kecil daripada selku itu, aku melihat bintang-bintang di langit. Pada waktu itulah aku mulai sadar pada Allah subhanahu wa taala. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa taala menolongku,” ucap Sukarno sebagaimana dicatat dalam buku Perkundjungan Presiden Soekarno ke Atjeh (1948).

“Aku memandang bintang-bintang di langit itu laksana dibuat oleh Al-Khalik. Timbullah cintaku kepada Tuhan, timbul hasrat dalam dadaku mempelajari agama Islam. Di sinilah agama Islam ku pelajari”.

Setelah keluar dari penjara Sukamiskin, Sukarno sudah mengenali 5 Rukun Islam dan 6 Rukun Iman. Salat lima waktu juga mulai ia tunaikan. Imannya terus tumbuh bersama semangat perlawanan terhadap kolonialisme.

Sementara mulai menginsafi Islam, pada tahun 1933 Sukarno kembali ditangkap polisi Belanda. Bersama istri, mertua, dan anak angkatnya, Sukarno kemudian dibuang/diasingkan ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Tetapi Sukarno bersyukur atas pengasingan ini, karena ada pelajaran yang membuat keimanannya semakin teguh.

Selama di Pulau Flores, Sukarno bisa merasakan perbedaan antara orang Mukmin dengan orang kafir. Oleh karenanya dia merasa pengasingan oleh Belanda merupakan cara Allah menjadikannya sebagai seorang pemeluk Islam sejati.

“Aku melihat di situ dengan mata kepala sendiri, bagaimana hidup kafir. Laksana Allah subhanahu wa taala mengatakan kepada saya: ‘Nah, lihat, lihat, lihat, inilah hidup kafir. Lihatlah, inilah hidup kafir’. Alhamdulillah, kepercayaanku bertambah tebal kepada Islam”.

Dari Pulau Flores, Sukarno kemudian dipindakan ke Bengkulu. Ia lebih-lebih bersyukur atas pemindahan ini, karena Bengkulu merupakan tempatnya orang-orang Islam. “Di sana,” kata Sukarno, “aku melihat masyarakat Islam. Di sana aku bergaul dengan kaum Muslimin. Di sana aku lebih cinta lagi kepada agama Islam”.

“Pada saat sekarang ini aku berdiri di hadapan saudara-saudara sekalian, Alhamdulillah, aku termasuk golongan orang yang beragama, percaya kepada agama Islam”.

“Alhamdulillah, bersyukur aku kepada Tuhan Yang Maha Esa bahwa aku diberikan jiwa Islam”.

Meskipun Islam telah meresap ke dalam sanubarinya, Sukarno menjelaskan kepada rakyat Aceh bahwa kemerdekaan Republik bukanlah perjuangan agama (Godsdienststrijd) atau kelompok (Klassenstrijd) tertentu. Semua orang dari semua agama telah berperan, dan oleh karenanya seluru bangsa Indonesia mesti senantiasa saling menghargai.

Setelah dua jam berbicara, Sukarno minta pamit pada rakyat. Dia ingin beristirahat, karena esok harinya (16 Juni) mesti berpidato kembali di hadapan puluhan ribu pemuda-pemudi Aceh.

“Sekian, saudara-saudara. Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Merdeka!”

Pos terkait