Transmigrasi di Aceh: Saling Cekik Sesama Orang Jawa

  • Whatsapp
Transmigrasi di Aceh bukan hanya menimbulkan masalah antara orang Jawa dengan warga lokal. Di Desa Bukit Hagu, Aceh Utara, timbul konflik antarsesama orang Jawa karena faktor kedaerahan.
"Keris"

Tahun 1970-an, Presiden Suharto semakin memajukan program transmigrasi. Jutaan orang di Pulau Jawa dikirim ke tempat-tempat yang belum padat penduduknya, antara lain ke sejumlah daerah di Sumatra.

Salah satu persoalan yang dihadapi dalam transmigrasi tersebut adalah timbulnya ketegangan antara orang-orang Jawa transmigran dengan warga lokal (penduduk asli). Namun masalahnya ternyata bukan cuma itu. Di kalangan orang Jawa sendiri terjadi perpecahan karena masalah kedaerahan.

Bacaan Lainnya

Orang Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Yogyakarta tidak ditempatkan secara terpisah-pisah. Mereka dicampur di tiap-tiap desa transmigrasi. Masing-masing pihak menaruh solidaritas yang tinggi pada daerahnya, dan memusuhi orang Jawa dari kabupaten lain.

Saling cekik antarsesama orang Jawa misalnya terjadi di Bukit Hagu, sebuah desa yang terletak di pedalaman Kabupaten Aceh Utara. Desa ini mulai ditempati transmigran dari Pulau Jawa pada 1977 (setahun pascadeklarasi Aceh Merdeka).

Menurut hasil penelitian Chairuddin Shobari, jumlah transmigran yang ditempatkan di Desa Bukit Hagu sebanyak 2.253 jiwa. Terbagi dalam 500 kepala keluarga. Penduduk generasi awal tersebut berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta (“Dampak Transmigrasi terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Transmigran di Aceh: Studi Kasus di Bukit Hagu, Lhoksukon, Aceh Utara”, Pusat Pengembangan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Syiah Kuala”, 1987).

Perkelahian sesama orang susah

Ketika tiba di Desa Bukit Hagu, para pendatang itu menghadapi masalah yang sama: kemiskinan, ditempatkan di area yang masih berupa hutan belantara, makanan terbatas, sebagian tanah kurang subur, lahan belum mendatangkan keuntungan, dan banyaknya hama babi yang merusak tanaman.

Beberapa bulan setelah memacak setek di tanah ladang, panen ubi pun tiba. Semua orang merasa senang dengan panen perdana ini. Semua orang merasa program transmigrasi di Aceh mulai tampak cerahnya. Tetapi rupanya penderitaan masih berlanjut. Ubi yang dipanen dalam jumlah besar tak laku di pasar lokal. Banyak yang terpaksa dibuang atau diberikan kepada siapa saja yang mau.

Mereka juga mesti menghadapi teror dari gerilyawan Aceh Merdeka. Tak lama setelah menempati desanya, orang-orang Jawa di Desa Bukit Hagu terancam dengan aksi pembakaran rumah yang dilakukan para gerilyawan setempat. Pembakaran itu terjadi pada tanggal 25-26 Desember, menghanguskan rumah nomor 27 dan 30.

Biarpun situasi-situasi tersebut membenani hidupnya, orang-orang Jawa di Desa Bukit Hagu masih tetap enggan mengesampingkan sentimen perbedaan asal daerah di antara mereka. Orang Jawa Timur dan orang Jawa Tengah terus saja saling cekik.

Nengah Bawa Atmaja datang jauh-jauh dari Bali ke Desa Bukit Hagu untuk melihat langsung fenomena tersebut. Dalam hasil penelitiannya, dosen Universitas Udayana ini mengungkapkan pertikaian sosial sesama transmigran bisa meledak hanya karena dipicu masalah sepele. Misalnya, masalah pacaran. Masalah personal dengan cepat bisa berubah menjadi konflik antarkelompok (“Pekerjaan di Luar Pertanian pada Petani Transmigran Jawa di Desa Bukit Hagu, Kecamatan Lhok Sukon, Kabupaten Aceh Utara”, Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 1984).

Upaya untuk membangun persaudaraan sesama orang Jawa kadang malah berujung pada semakin memburuknya situasi. Setiap kali digelar pertandingan sepak bola persahabatan, pasti terjadi perkelahian antarpemain dan suporter masing-masing tim. Para pendekar dari masing-masing kelompok turun ke arena baku hantam. Lapangan sepak bola menjelma jadi tempat adu kesaktian. Mungkin juga ada yang main keris.

“Dalam pertandingan bola pada akhir tahun 1983, diramaikan pula dengan adu tinju dan adu kesaktian, sehingga fraksi sosial Jawa Timur keluar sebagai pemenang,” tulis Atmadja dalam laporan penelitiannya.

Rekonsiliasi

Seiring pergantian generasi, sentimen kedaerahan di Desa Bukit Hagu perlahan lenyap. Generasi baru merupakan anak-anak kelahiran setempat yang tak memiliki ikatan dengan kampung halaman orangtua mereka.

Sejalan dengan perubahan itu, para tetua juga melakukan tindakan-tindakan sistematis demi mengharmoniskan suasana desa. Setelah berulang-ulang menyelenggarakan musyawarah, ditemukanlah satu cara penyelesaian masalah yang jitu.

Tanggal 30 Agustus 1983, warga Desa Bukit Hagu menggelar pemilihan lurah untuk pertama kalinya. Strateginya: jika yang terpilih sebagai kepala desa adalah orang Jawa Timur, maka kepada orang Jawa Tengah diberikan jabatan wakil kepala desa, demikian sebaliknya.

Dalam pemilihan perdana tersebut, pemenangnya ialah orang Jawa Tengah. Perwakilan orang Jawa Timur diangkat sebagai wakil kepala desa. Pembagian kekuasaan ini sukses menciptakan integrasi antarorang Jawa.

Selanjutnya, rasa persaudaraan semakin tumbuh akibat bertambah kejamnya tindakan gerilyawan Aceh Merdeka. Orang Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta yang ada di Desa Bukit Hagu mulai bahu membahu mempertahankan desanya. Setiap malam mereka menggelar ronda demi melindungi satu sama lain.

Pos terkait