Ulama Aceh Merayakan Hari Raya Idulfitri di Israel

"Profesor Haji Ali Hasjmy"
"Profesor Haji Ali Hasjmy"

Alangkah senangnya hati Ali Hasjmy. Pada bulan puasa tahun 1993, atau 1413 Hijriah, dia diundang Presiden Mesir untuk menerima penghargaan “Bintang Istimewa Republik Arab Mesir Kelas I”. Bersama anak keduanya, Mulya Ali Hasjmy, ia pun terbang ke tempat tujuan.

Sebenarnya kunjungan ini bukan yang pertama bagi Hasjmy. Dia sebelumnya pernah ke Mesir pada 26 Oktober 1949, dalam rangkaian perjalanan tugas Misi Haji RI ke-II.

Dalam buku kecil yang dijuduli Kisah Misi Haji RI II: Menjalankan Tugas Revolusi 1945 (1894), Hasjmy bercerita betapa berat hatinya ketika harus meninggalkan Mesir karena pekerjaan di negara itu sudah selesai. Oleh sebab itulah hatinya ia sungguh berbunga-bunga ketika datang lagi kesempatan untuk mengunjungi negara Mesir pada tahun 1993. Apalagi kali ini yang memintanya datang ialah Presiden Mesir langsung.

Bersama Hasjmy, ada lima belas ulama, pemikir, atau pemimpin Islam dari negara-negara lain yang turut menerima penghargaan tersebut. Upacara penyerahan penghargaan berlangsung pada tanggal 27 Ramadan 1413 H, atau 21 Maret 1993.

Ali Hasjmy (kiri) sempat bercengkerama dengan Menteri Agama Uzbekistan (tengah) yang juga menerima penghargaan dari Presiden Mesir. Foto diambil pada 20 Maret 1993 (Koleksi Perpustakaan dan Musem Ali Hasjmy)
Ali Hasjmy (kiri) sempat bercengkerama dengan Menteri Agama Uzbekistan (tengah) yang juga menerima penghargaan dari Presiden Mesir. Foto diambil pada 20 Maret 1993 (Koleksi Perpustakaan dan Musem Ali Hasjmy)

Usai menerima penghargaan, keesokan harinya Hasjmy memanfaatkan kesempatan untuk berkunjung ke Yordania. Dia berangkat ke Amman, ibu kota Yordania, dengan pesawat milik maskapai EgyptAir.

Di Amman, Hasjmy disambut dengan ramah oleh Duta Besar Indonesia untuk Yordania, Muhammad Hasan Adamy. Antara Hasjmy dengan Adamy sebetulnya sudah terjalin hubungan baik yang lama. Mereka sama-sama pernah menjadi pejabat daerah. Sewaktu Hasjmy memangku jabatan Gubernur Aceh (1957-1964), Adamy bertugas sebagai seorang patih di Sigli dan Lhokseumawe.

Kepada Adamy, Hasjmy kemudian mengutarakan keinginannya untuk berwisata ke wilayah Israel. Memberikan bantuan terbaiknya, Adamy lekas menghubungi kantor The Guilding Star Agency for Tours and Travel, sebuah biro perjalanan ternama setempat. Perusahaan ini punya reputasi baik dalam mengurus perizinan untuk para wisatawan mancanegara yang ingin masuk ke Israel.

Setelah Hasjmy membayar sebanyak US$500, The Guilding Star Agency segera menyelesaikan izin yang diperlukan. Uang ini sudah termasuk biaya transportasi, sewa hotel, dan makan selama 2 hari 1 malam untuk 2 orang (Hasjmy dan Mulya).

Pada 29 Ramadan 1413 H, hari terakhir puasa, Hasjmy berserta 27 wisatawan lainnya diberangkatkan ke perbatasan Yordania-Israel. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam 30 menit. Pemeriksaan di perbatasan sangat cepat tetapi cermat.

Menurut yang dirasakan Hasjmy, masuk ke wilayah Israel itu mudah. Pariwisata memang sengaja dipermudah demi mendatangkan keuntungan nasional yang melimpah bagi Israel. Apalagi waktu itu Israel sedang ditimpa multikrisis. Itulah mengapa setiap petugas memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya; mereka ramah serta murah senyum.

Setelah memperoleh “Surat Izin Masuk Israel” dari otoritas keimigrasian, Hasjmy dan rombongan menuju pemeriksaan bea cukai. Yang sedang bertugas sebagai pemeriksa hari itu adalah seorang gadis Israel “yang manis dan peramah”.

“Waktu tustel saya terarah kepada nona Israel itu, segera dia meminta dengan manis agar saya jangan memfotonya. Kemudian muncung tustel saya tujukan ke atas,” tulis Hasjmy dalam catatan perjalanannya yang diberi judul Mengunjungi Israel: Shalat Idul Fithri di Masjidil Aqsa Yerussalem.

Perempuan itu kemudian menanyakan kepada para wisatawan apakah ada buah-buahan yang mereka bawa. Kalau ada, semuanya akan disita. Buah-buahan dari luar dilarang masuk Israel.

“Takut tidak laku buah-buahan hasil pertanian mereka sendiri,” ejek Hasjmy.

Melihat-lihat Kota Yerussalem

Begitu pemeriksaan beres, Hasjmy dan Mulya dijemput oleh seorang pria Palestina bernama Mahmod Bahalwan. Mahmod adalah pemandu wisata sekaligus penerjemah yang pandai bahasa Arab, Ibrani/Israel, Inggris, dan Prancis. Dengan sebuah mobil mewah, ia membawa Hasjmy dan rombongan ke Kota Yerussalem.

Tempat mereka menginap bernama The American Colony Hotel Jerussalem. Dalam profil berjudul Our History: Know More About US! diterangkan bahwa hotel bintang lima ini dahulunya dibangun oleh Keluarga Spafford, sebuah keluarga Kristen taat “yang meninggalkan kota asal mereka di Chicago pada tahun 1881 untuk menemukan kedamaian di Kota Suci Yerusalem”.

Arsip Ali Hasjmy
Arsip catatan perjalanan Ali Hasjmy di Israel. Arsip ini tersimpan di Museum dan Perpustakaan Ali Hasjmy, Kota Banda Aceh, tanpa nomor registrasi/berkas.

Setelah menaruh barang-barangnya di hotel, Hasjmy pergi bertamasya ke beberapa bangunan gereja tua yang sejarahnya bertalian dengan agama Islam. Gereja-gereja ini selalu didatangi banyak wisatawan, baik yang beragama Nasrani, Islam, Hindu, Budha, dan sebagainya.

Dari gereja, Hasjmy berjalan kaki ke Kubah as-Sakhrah yang bangunannya terlihat amat mencolok dalam Kompleks Masjidil al-Aqsa. Dalam catatannya, Hasjmy menyebut Kubah as-Sakhrah sebagai “Masjid Kubah”. Dan di sini ia melaksanakan salat sunah dua rakaat lalu sembahyang Zuhur.

Masjid Kubah tentu bukan tujuan utamanya. Yang menjadi impian Hasjmy sejak lama adalah melihat langsung Masjidil al-Aqsa serta beribadah di dalamnya. Impian ini akhirnya terwujud setelah azan waktu Ashar hari itu berkumandang. Dengan penuh bahagia, melangkahlah Hasjmy ke dalam Masjidil al-Aqsa untuk menunaikan salat fardu berjemaah.

“Sungguh amat bahagia, cita-cita hendak shalat dalam Masjidil Aqsa telah dikabulkan Allah. Alhamdulillah!” tulis Hasjmy.

Kopi, Daging Kambing, dan Salat Idulfitri

Karena hari itu merupakan akhir dari bulan Ramadan 1413 H, Hasjmy ingin berbuka puasa sekaligus merayakan malam Lebaran pertama dengan masakan-masakan sedap.

Mahmod tahu betul harus membawa Hasjmy ke mana. Dari Masjidil al-Aqsa, mereka berangkat ke sebuah restoran mewah yang islami. Pemiliknya seorang Muslim Palestina. Restoran ini berada di sebuah gedung bertingkat. Letaknya di lantai empat. Cuma dengan membayar US$37, Hasjmy, Mulya, dan Mahmod sudah bisa menikmati beraneka macam juadah khas Arab yang kebanyakan berasa manis.

Berbuka puasa serta merayakan Hari Raya Idulfitri di Israel dengan makanan-makanan kesukaan orang Islam sungguh berkesan bagi Hasjmy. Kegembiraan ini juga diceritakan dengan jelas dalam catatan perjalanannya: “Kopi susu arabika, nasi baguli campur daging kambing Arab, dan macam-macam lainnya. Sungguh puas sekali. Hatta timbul keinginan untuk berbuka lagi di restoran tersebut bila Allah memberi kesempatan”.

Jam lima pagi, Hasjmy, Mulya, dan Mahmod berangkat ke Masjidil al-Aqsa dengan niat melaksanakan Salat Idulfitri. Sayangnya, biarpun datang cepat, mereka tak kebagian tempat di dalam masjid. Ada ribuan jemaah yang rupanya datang lebih awal. Mau tak mau ketiganya bersembahyang di luar masjid, di depan pintu masuk utama.

Tetapi, baik di luar ataupun di dalam tak jadi soal bagi Hasjmy. Yang penting ia dapat berjemaah di Masjidil al-Aqsa. Lagipula, dari kejauhan Hasjmy masih dapat melihat sosok khatib yang berapi-api di sepanjang khotbahnya. Sang khatib berseru, semua umat Islam wajib memerangi kaum Yahudi yang menduduki bumi Palestina.

“Tentara Israel yang berjaga-jaga di sudut-sudut tertentu ketawa-ketawa saja mendengar khutbah yang hebat itu,” catat Hasjmy.

Media-media setempat, seperti radio Suara Palestina, koran al-Quds (bahasa Arab), dan Yerussalem Post (bahasa Inggris), memberitakan bahwa jumlah jemaah Salat Idulfitri di Masjidil al-Aqsa tahun 1993 lebih dari satu juta orang.

Meninggalkan Israel

Perjalanan Ali Hasjmy di Israel akhirnya menemui batas waktu. Hasjmy dan wisatawan lainnya harus kembali ke Yordania sebelum pulang ke negara masing-masing.

Saat diperiksa lagi di pos perbatasan, Hasjmy sempat bercengkerama dengan seorang perwira perempuan Israel yang “pipinya warna merah jambu”. Kepada Hasjmy ditanyai bagaimana kesannya selama berada di Israel.

“Baik, dan akan kembali lagi,” jawab Hasjmy.

“Saya harap semoga Republik Indonesia segera mengakui negara Israel,” ucap tentara perempuan tersebut.

Sambil tersenyum Hasjmy membalas: “Kalau Israel telah meninggalkan bumi Palestina yang didudukinya dengan paksa, Pemerintak Republik Indonesia akan segera mengakui negara Israel”.