Ulama NU Dibawa Rakyat Aceh ke Kuburan Massal

sejarah pulot cot jeumpa tahun 1955
"Menteri Dalam Negeri Mr. R. H. A. Soenarjo"

Jam delapan pagi, ban pesawat yang membawa Menteri Dalam Negeri R. H. A. Soenarjo menyentuh permukaan landasan pacu Lapangan Terbang Maimun Saleh Lhoknga, Aceh Besar. Delapan pejabat negara serta seorang fotografer dengan tertib satu per satu menuruni tangga pesawat. Orang yang paling tinggi jabatannya di antara mereka, yakni Mr. Soenarjo, turun paling akhir.

Beberapa pejabat Keresidenan Aceh menyambut kedatangan rombongan Mr. Soenarjo dengan hangat. Setelah saling sapa, mereka bertolak ke Pendopo Keresidenan Aceh di Kutaraja.

Setengah jam usai Mr. Soenarjo tiba di Kutaraja, digelar konferensi pers. Menteri Dalam Negeri yang juga tokoh agama dari Nahdlatul Ulama ini menjelaskan tujuan kunjungannya ke Aceh: untuk meninjau keadaan di Kecamatan Leupung, khususnya Desa Cot Jeumpa. Di kecamatan ini, pada pertengahan Februari dan awal Maret sebelumnya telah terjadi “pembunuhan besar-besaran yang dilakukan alat negara”.

Menurut berita-berita yang telah pecah ke publik, tentara dari Batalion 142 telah melakukan pembantaian massal di beberapa lokasi. Jumlah korbannya mencapai lebih seratus orang. Sebagian sumber menyebutkan, orang-orang yang ditembak mati adalah para petani-nelayan yang berstatus sipil. Sementara pihak militer, yakni Komando Tentera dan Teritorium I Bukit Barisan, menyangkal tuduhan tersebut dengan narasi “pembantaian gerombolan”. Maksudnya, yang dibantai bukanlah sipil melainkan para pemberontak DI/TII Aceh yang menyerang patroli tentara. Untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadilah Mr. Soenarjo datang langsung ke Aceh. Dia diutus Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo.

Oleh karenanya, dalam konferensi pers tersebut Mr. Soenarjo mengaku masih belum bisa memberikan banyak keterangan mengenai apa yang terjadi di Cot Jeumpa serta dua lokasi pembantaian massal lainnya. Di samping itu, wartawan-wartawan juga menghujani Mr. Soenarjo dengan pertanyaan seputar kemungkinan pemerintah mengotonomikan Aceh lagi sebagai sebuah provinsi.

Konferensi pers selesai saat tengah hari. Jam setengah satu siang, Mr. Soenarjo dan laki-laki Muslim lainnya pergi melaksanakan sembahyang Jumat di Masjid Raya Baiturrahman. Oleh para pemuka agama setempat, Mr. Soenarjo dipersilakan menyampaikan ceramah setelah Jumatan.

Hari itu, 18 Maret 1955, Mr. Soenarjo harus mengikuti serangkaian pertemuan. Yang terakhir baru selesai jam setengah sebelas malam dan membuat sang menteri amat kelelahan. Lebih-lebih dalam hampir semua pertemuan ia mendengar banyak keluhan dari wartawan, pejabat daerah, pentinggi partai-partai politik di Kutaraja, dan masyarakat yang hadir.

Mereka semua mengeluh tentang betapa tak enaknya hidup di bawah kekuasaan Sumatra Utara. Tahun 1950, sesaat setelah RIS lahir, Aceh dilebur ke dalam Provinsi Sumatra Utara sehingga kedudukannya berubah dari suatu provinsi menjadi keresidenan. Para hadirin pun meminta Mr. Soenarjo mau mengembalikan status provinsi kepada Aceh. Bahkan, Kepala Jawatan Sosial Kabupaten Aceh Besar Amat Binuali rela merendah di hadapan sang menteri.

“Paduka Yang Mulia, kami orang yang berasal dari Aceh tidak banyak mengeluarkan pendapat oleh karena dalam keadaan kesempitan. Memang masyarakat yang sempit, pikiran pun sempit. Saya sebagai salah seorang yang berasal dari Aceh mengharapkan dengan sungguh-sungguh kepada Paduka Yang Mulia, agar daerah Aceh ini menjadi satu provinsi,” ucap Amat Binuali (Arsip DPKA, Verslag Rapat Kepala-Kepala Djawatan dan Instansi dengan J. M. Menteri Dalam Negeri, nomor arsip: AC01-230/13-230.2).

Mr. Soenarjo tak banyak merespons keluhan maupun permohonan yang disuarakan. Dia lebih banyak mencatat.

Menuju Lokasi Pembantaian

Tidur agak telat tidak membuat Mr. Soenarjo terlambat bangun. Pagi-pagi sekali dia sudah bergegas. Kali ini, 19 Maret, dia akan menempuh perjalanan lumayan jauh; puluhan kilometer dari Kutaraja.

Yang pertama dikunjungi ialah Desa Lamsujen, Kecamatan Lhoong. Rombongan tiba jam 11.10 siang dan disambut camat, polisi, tentara, para kepala mukim, dan masyarakat setempat. Setelah beristirahat selama 25 menit, Mr. Soenarjo meninjau keadaan irigasi di Lamsujen.

Tiba-tiba, seorang warga, walaupun tahu ada pengawalan ketat oleh polisi dan tentara, tanpa ragu mendekati Mr. Soenarjo untuk menyerahkan dua pucuk surat. Sang menteri menerima surat tersebut dengan baik, tetapi tak langsung membacanya (Arsip DPKA, Lapuran Chronolis Perkundjungan dan Perdjalanan Menteri Dalam Negeri Mr. Sunario di Kutaradja, nomor arsip: AC01-230/13-230.1).

Dalam perjalanan pulang ke Kutaraja, iring-iringan mobil rombongan Menteri Dalam Negeri dicegat kerumunan warga di kawasan Cot Jeumpa. Sebagian besar pencegat adalah perempuan. Para perempuan ini memohon agar Mr. Soenarjo sudi melihat kuburan massal tempat ayah, kakek, adik, dan anak mereka dikebumikan setelah dibantai tentara pada 26 Februari lalu.

Mr. Soenarjo turun dari mobil. Polisi dan tentara yang mengawalnya diminta menunjukkan sikap yang baik kepada warga. Beramai-ramai mereka kemudian berjalan kaki sejauh tiga kilometer untuk mencapai kuburan massal yang terletak di pinggir laut. Di situ, Mr. Soenarjo melihat sebuah kuburan seluas kurang lebih 5 x 6 meter yang berisi 25 jenazah korban pembantaian.

Peristiwa Pulot Cot Jeumpa pembantaian massal di Aceh
Menteri Dalam Negeri Mr. Soenarjo dan rombongan saat meninjau kuburan massal di Desa Cot Jeumpa

Usai memandu doa untuk para korban, Mr. Soenarjo menyampaikan pidato duka di hadapan warga yang sebagian besar tak mengerti bahasa Indonesia. Nasihat-nasihat yang diutarakannya diterjemahkan ke dalam bahasa Aceh oleh M. S. Rahmany. Mr. Soenarjo juga sempat mendatangi lokasi pembantaian yang jaraknya sekitar delapan puluh meter dari kuburan massal. Setelah momen haru ini, rombongan menteri melanjutkan perjalanan pulang ke Kutaraja.

Malam harinya, digelar pertemuan terakhir antara orang-orang Aceh dengan Menteri Dalam Negeri. Dalam rapat yang selesai jam sepuluh malam ini dibicarakan lagi hal yang sama. Para hadirin berharap, nanti sesampainya di Jakarta Mr. Soenarjo segera memperjuangkan dua hal: Aceh jadi sebuah provinsi lagi dan para pelaku pembantaian massal di pesisir barat Aceh Besar dikenai hukuman.

Pada 20 Maret, rombongan Mr. Soenarjo meninggalkan Aceh dengan berlembar-lembar catatan. Para awak media di Jakarta kemudian mendatanginya untuk menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi di Aceh. Dan seperti Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo, Mr. Soenarjo juga lebih percaya dengan narasi bahwa militer di Aceh Besar tak salah karena yang mereka bantai adalah pemberontak. Bukan warga biasa atau sipil.

Orang-orang di Cot Jeumpa yang sempat berziarah dengan Mr. Soenarjo pasti tak menyangka Menteri Dalam Negeri mereka akan bersikap demikian.